Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

January 8, 2007

Ada lagu baru lho Bunda

Filed under: C3r1t4 AisYa

"Bunda.. hari ini aku belajar mewarnai dan menebalkan titik garis lagi". Sapa Aisya saat aku dan ayahnya menjemputnya di sekolah.
"iih.. ko belajar itu terus." Kataku sambil tertawa.
Aisya ikutan tertawa juga.
"Oh ya Bunda, hari ini tidak ada senam "kepak-kepak". Padahal aku pengen lho." lanjutnya lagi.
aku tersenyum.
"Mungkin ibu gurunya lupa kali ya Bunda,"
Aku dan ayahnya tidak berkomentar.
Tapi aku punya lagu baru lho bunda katanya sampai di rumah.
Tanpa di suruh lagunya langsung dinyanyikan. 

"Aku adalah anak yang soleh, selalu sholat setiap waktu, subuh dan dzuhur, ashar dan magrib, isya pun juga aku lakukan. la..la..la..la..la..la.. la..la..la..la..la..la..la..la..  " (nada lagunya sama seperti lagu anak gembalanya Tasya, syairnya aja diganti)

 

Catatan yang tercecer

Filed under: Daily Diary

Akhir-akhir ini ada sesuatu menjadi momok dan perhatian seluruh masyarakat di negeri yang ramah tamah ini. Terutama bagi mereka yang bisa mengakses informasi dari media lokal manapun baik televisi juga media cetak. Sepertinya semua media lokal saling berlomba mencari dan mendapatkan informasi yang paling gress, paling seru dan tentu saja terkini. Apalagi kalau bukan informasi yang ada hubungannya dengan poligami. Dimana-mana satu kata ini saja yang dibicarakan. Mendadak menjadi trend dimana setiap orang pasti membicarakannya. Wadak leh, tegak ndi da carangan lain, itu maha yang dicarangkan (ya ampun, seperti tidak ada pembicaraan lain, itu saja yang dibicarakan). Ada yang pro ada yang kontra. Tidak terkecuali di rumahku. Asal kata dari poligami adalah poli dan gami. Poli artinya banyak dan gami adalah sebutan ikan asin yang di masak pedas oleh ibuku.. he..he..jadi artinya ikan asin pedas yang banyak. :-p

Ukhti, hati-hati dengan ghibah .. eh tapi tulisan ini tidak untuk bergosip, sebenarnya ini adalah curhatku.

Mom’s, rasanya pasti sedih banget ya kalau sampai suami kita berpoligami. Aku saja begitu takut sekali membayangkan kalau sampai hal itu terjadi padaku. Tak usah membayangkan deh, memikirkannya saja aku sudah pusing dan pengen nangis. Ada ketakutan yang tidak bisa digambarkan dengan cara apapun.

Cerita dari seorang teman

Seorang teman pernah bercerita padaku bahwa dia memiliki seorang kakak laki-laki yang memiliki isteri dan seorang anak. Saat ini kondisi isterinya bisa dikatakan sudah tidak bisa melayani suaminya karena menderita kanker rahim. Kondisi si isteri ini benar-benar membuatnya harus berulang kali masuk rumah sakit. Kini dia hanya pasrah pada Allah karena dia yakin Allah akan memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka. Satu hal yang begitu menyentuh adalah si suami tidak pernah sekalipun terlihat menjauh dari isterinya Tidak untuk sekejappun. Walau sudah diminta oleh sang isteri untuk menikah lagi, si suami tetap kukuh tidak akan meninggalkan isterinya sampai kapanpun. Hanya mautlah yang akan menjadi pemisah cinta mereka. Subhanallah.. 

Sebaliknya temanku ini bercerita lagi bahwa pernah suatu ketika dia bertanya pada suaminya dan meminta jawaban yang jujur. Dia bertanya kalau seandainya dia (temanku) yang mengalami penderitaan seperti kakak iparnya tadi apakah suaminya akan menikah lagi? Suaminya mengangguk dan mengatakan akan menikah lagi. Jawaban jujur inilah yang diterima oleh temanku. Katanya seketika ada sesuatu yang berdetak kencang jauh di dasar hatinya. Setelah itu temanku berkata bahwa ternyata tidak semua lelaki bisa bersikap seperti kakak lelakinya yang begitu ikhlas dan tulus mencintai isterinya. Mencintai dengan cinta yang sebenarnya.

Dua versi cerita yang berbeda dan berasal dari satu sumber. Mom’s, jujur aku selalu berdoa mudah-mudahan suamiku bisa bersikap seperti lelaki yang ada di cerita yang pertama, seperti kakak lelaki temanku ini. Pastinya kita sebagai seorang isteri berharap yang demikian kan?

 Kenapa juga harus poligami?

            Sebagai seorang perempuan aku bertutur dari hatiku yang paling dalam. Bahasaku adalah kiasan dari keindahan perasaan yang kumiliki. Sebagai seorang perempuan yang benar-benar berbicara atas nama cinta aku tidak bisa menyembunyikan guratan hati yang tersayat dan berdarah.

Jujur aku tidak bisa mengatakan setuju atas satu kata ini. Dari naluri perempuanku terdengar ucap “no way” dengan tindakan ini. Kurasa setiap perempuan juga begitu. Aku tidak mungkin bisa menyerahkan atau membagi suamiku dengan kerelaan hati pada perempuan lain.

            Kenapa juga harus poligami? Pertanyaan yang masih sering timbul dikepalaku dan belum ada jawabannya sampai saat ini. Apakah cinta dan pengabdian saja tidak cukup buat seorang suami? Ataukah memang ada sisi lain dari suami yang belum diketahui oleh kita kaum perempuan dan para isteri?

            Aku memang tidak punya pengalaman ataupun teman yang diduakan oleh suaminya. Tapi seperti yang aku bilang tadi bahwa aku berbicara dari hatiku sebagai seorang perempuan yang lebih banyak mengutamakan perasaan. Aku bisa merasakan bagaimana kesedihan seorang perempuan yang diduakan oleh orang yang sangat dicintai dan sebenarnya diharapkan menjadi satu-satunya orang yang dicintai seumur hidup. Aku belajar hal ini dari orang-orang yang tidak mengenalku tapi aku mengenal mereka. Diantara mereka ada yang menjadi panutan dan ada juga orang-orang yang sukses dibidangnya. Tapi kenapa setelah mereka menjadi panutan dan sukses saat itu pula mereka sanggup menggetarkan dan mengoyakkan hati perempuan secara bersamaan. Kenapa harus poligami?

            Ini benar-benar dari sudut hatiku yang paling dalam. Seribu alasan sepertinya tidak akan pernah cukup bagi seorang perempuan untuk menerima tindakan ini. Segala alasan juga tidak akan bisa membuat seorang suami merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. So what? Apakah memang karena dia seorang suami maka segala hak dan aturan ada ditangannya? Apa karena kami seorang perempuan yang sifatnya kebayakan nrimo jadi seorang suami bebas melakukan keinginannya? Astagfirullah, mungkin apa yang aku tuturkan ini begitu kelewatan dan emosional. Tapi inilah yang aku rasakan dan apa yang bertengger di kepalaku saat ini. Pertanyaan-pertanyaan yang pasti membuat para suami mencari beribu alasan untuk menjawabnya.

            Tidak hanya aku yang memiliki pertanyaan dan pernyataan seperti ini. Salah seorang rekanku berkata setelah kami berbincang-bincang bahwa dia sangat tidak setuju dengan tindakan ini. Bagaimana mungkin mereka (para suami) bisa dengan enaknya membagi cinta dengan perempuan lain. Apakah mereka benar-benar mencintai kita seperti kita mencintai mereka? Apakah ini artinya bahwa tidak ada ketulusan dan keikhlasan darinya ketika mencintai kita? Ataukah memang begini cara mereka mencintai isteri-isteri mereka? Kenapa harus poligami?

 Kalau memang harus poligami…

Aku tidak atau belum punya cukup keikhlasan untuk bisa membagi suamiku pada perempuan lainnya. Mungkin tidak akan pernah bisa. Seandainya pun iya maka aku akan berkata tolong, tunggulah sampai jiwaku ini bebas dari raga. Salahkah kalau aku berharap demikian?

Tapi bagaimana kalau seandainya (hanya berandai-andai saja) ternyata suami kita merasa sudah tidak bahagia bersama kita? Apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus egois mempertahankannya demi kebahagiaan kita sendiri? Mom’s what we gonna do, kalau sudah seperti ini? Satu hal yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya supaya suami merasa bahagia dan ikhlas mencintai kita. Jangan biarkan sedetikpun pikirannya beralih dari hembusan wangi cinta kita dan mencium wangi bunga lainnya.

 Adakah jalan lain selain poligami?
           
            Aku sendiri sempat bertanya pada suamiku. Singkat saja jawabannya. Satu isteri tidak akan pernah habis, dua tidak akan pernah cukup, apalagi tiga, empat dan seterusnya. Memang itu benar. Sebagai manusia kita tidak akan pernah merasa puas kecuali kita benar-benar punya sayap keikhlasan yang bisa terbang begitu tinggi dan kaki-kaki ketulusan yang bisa berpijak kuat dan tegar dalam kondisi apapun. Setumpuk harap seraya berdoa mudah-mudahan suamiku memegang janji tulusnya untuk selalu menjaga dan memberikan cinta itu hanya untukku. 


            Jadi jalan lain itu adalah mencintai dan menerima isteri dengan tulus dan ikhlas, meletakkan kejujuran di level teratas dari tangga cinta yang akan dilalui dan menjadikan dua perbedaan (suami – isteri) seiring sejalan.
 


            Duhai suamiku, layaknya sebuah puisi cinta itu indah, merdunya nyanyian hati merupakan bisikan cinta,dapatkah kau menebak kapan cinta itu datang di kegelapan?? dan bila cinta itu pergi diwaktu fajar??? Jangan sekali-kali bermain dengan cinta… apalagi janji,  kalau jatuh kau akan sakit, kalau senang kau akan lupa..keteguhan jiwamu akan goyah dibuatnya..


Duhai suamiku..Setia itu pintaku bukan kerinduan yang menggila Terimalah cintaku di sudut tersuci hatimu.


 


                                                                                                           






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita