Pelajaran Cinta
Begitu asyiknya aku chatting dengan seorang kenalanku di Perancis, tiba-tiba di layar monitorku muncul pesan “you have new mail”, dengan santai ku click OK dan kembali melanjutkan pembicaraanku dengan Pablo, seorang cowok keturunan Italia yang berkebangsaan Perancis. Asyik memang, tak terasa sudah hampir 3 jam aku ngobrol dengannya, dan sekarang perutku mulai terasa lapar. Astaga, sudah jam 3 sore.
“Sorry Pab, I must be off now. Please call me back later.” Kataku.
“ OK sweety, see you tonight.” Balasnya.
Haa..?? nanti malam? apa tuh anak sudah gila. Emangnya kerjaanku cuma chatting aja. Segera ku close layar icq ku. Upss.. aku menengok sebentar e-mail yang baru masuk barusan. Hei.. inikan dari Pablo. aku senyum sendiri. Kuurungkan sejenak rasa laparku, kemudian membaca e-mail tersebut.
Aku tersenyum sendiri begitu selesai membaca e-mail Pablo. Bayangin aja, .katanya dia ingin ke Indonesia, ke Samarinda lagi, tidak lain hanya ingin mengunjungiku. Sedikit gila kedengarannya. Dengan cuek ku close mail tersebut dan segera menuju ke dapur, apalagi kalau bukan untuk cari makanan. Ternyata perutku sudah tidak bisa diajak kerja sama lagi.
“ Bik, mama belum pulang ya.” Tanyaku pada Bik Mirah.
“ Belum Non, mungkin sebentar lagi.” Jawabnya.
Aku cuma mendehem saja. Mama adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Sedangkan papa seorang bussinessman. Usahanya bergerak dibidang perkebunan. Papa sering berada di luar kota atau job site, bisa sampai seminggu baru pulang. Yahh.. dua-duanya penuh dengan kesibukan.
Hari ini bik mirah masak makanan kesukaanku, sayur bening dan ikan mas kerutup, nyamm.. rasanya liurku mau netes. Tanpa ba-bi-bu lagi aku segera melahap makanan yang sudah disiapkan bi mirah dari tadi.
“ Makasih ya Bibik sudah masakin makanan kesukaanku.” Kataku pada Bik Mirah dan hanya dijawab dengan senyum khas beliau.
Selesai makan aku segera kembali ke kamar, beginilah kerjaanku setiap hari, kalau tidak ada kuliah, aku betah sekali berada didepan komputer, padahal cuma untuk chatting dengan Pablo. Untungnya sampai saat ini mama ataupun papa tidak pernah sekalipun complain padaku mengenai kebiasaanku ini, mereka benar-benar sibuk.
“ Nadya dimana Bik?” samar-samar kudengar suara mama yang sudah pulang kerja menanyakanku.
“Di kamarnya Bu, baru saja selesai makan dan masuk ke kamarnya kembali.” Jawab Bik Mirah.
Habis itu tidak kudengar lagi suara mama, aku yakin mama pasti langsung masuk ke kamarnya. Kebetulan papa tadi pagi berangkat ke site dan lusa baru pulang.
Aku keluar dari kamarku dan menuju ke kamar mama. Dengan sedikit ragu aku mengetuk pintunya. “
“Mama?” panggilku sambil membuka pintu kamar mama. Tak kutemukan mama disana.
“ Iya Sayang sebentar, mama mandi dulu ” jawab mama dibalik kamar mandi.
“ Iya Mam.” Sahutku lagi.
Aku menunggu mama selesai mandi, sambil melihat-lihat album mama tempo dulu, walaupun sudah berulang kali aku melihatnya. Mama dulu waktu masih muda cantik sekali, bahkan sampai saat ini juga.
“ Ah.. hari ini panas sekali ya, tidak seperti biasanya dan tumben sore-sore gini nyari mama.” kata mama sambil tersenyum dan duduk disebelahku.
“ Mam, hmm.. Nadya pengen cerita sama mama, tapi jangan tertawa ya.” kataku pada mama.
“ Lho kenapa mama harus tertawa Sayang, ayo.. pasti mama dengerin.. ” mama masih dengan tersenyum menjawab perkataanku.
“ Memangnya mau cerita apa nih Yang? “ lanjut mama bertanya.
Kuceritakan mengenai perkenalanku dengan Pablo dan juga e-mailnya yang barusan kuterima.
“ Tapi Nadya belum jawab e-mailnya Ma, sebenarnya sih Nadya pengen juga dia datang kesini. Tapi.. gimana nih Mam baiknya..” tanyaku sambil menyudahi ceritaku pada mama.
Mama hampir tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku. Tapi beliau segera menutup mulut agar suaranya tidak terdengar keras.
“ Wah anak mama lagi jatuh cinta sama cowok siapa tadi namanya.. hmm.. Pablo..?” tanya mama menggodaku.
“ Yaa.. Mama, Nadya bukannya jatuh cinta, tapi ….” Kataku menggantung kalimatku.
“ hei.. hei.. kenapa harus takut Sayang, diakan cuma kamu kenal di cyber world. So, don’t be worry, kalaupun dia mau datang, biarkan saja. Mama kira ini kesempatan buat kamu untuk mengetahui bagaimana rupa wajah dan karakternyakan ?” Mama memotong kalimatku.
“ihh.. Mama ini. Please deh Mam, apa yang harus Nadya katakan padanya? “ tanyaku pada mama sambil pura-pura cemberut.
“ Bilang saja setuju, bereskan? By the way, kalau nanti dia benar-benar datang, jangan lupa kenalin sama mama ya?” kata mama sambil menggodaku.
“ Ihh, Mama genit nih. “ kataku sambil memeluk mama. Mama cuma senyum-senyum aja.
Aku keluar dari kamar mama masih dengan perasaan yang tidak menentu. Antara keinginan menjawab ya atau tidak atas e-mail pablo.
Icq kujalankan, berharap Pablo akan online. Tapi tumben dia nggak aktif nih, padahal semalam katanya dia akan call aku lagi siang ini. Aku diam sambil menatap layar monitorku, siapa tau dia memanggilku di icq. Hari ini aku tidak ada kuliah, jadi waktunya bersantai di rumah. Bosan menunggu icq, aku menelpon Shasa sahabatku. Suara berisik terdengar ketika shasa menjawab teleponku.
“ Sha, kamu lagi dimana?” tanyaku
“ Di Lembuswana Nad, lagi belanja.” Jawabnya.
“ Ntar malam ke rumah ya, aku pengen ngobrol nih sama kamu.” Pintaku pada Shasa.
“ OK deh. Tunggu aku nanti malam ya, kira-kira jam setengah delapan aku sudah ada disana.”
“Ok bye, salam buat Rino ya.” Kataku lagi.
“ He.he.. tau aja kalau aku lagi bareng Rino, OK deh. Bye” Jawab Shasa.
Aku menghela nafasku. Kenapa aku jadi seperti orang bingung ya? Pikirku dalam hati. Kembali kurebahkan diriku ke kasur yang empuk. Anganku mengingat e-mail yang dikirimkan oleh Pablo, tentang keinginannya untuk bertemu denganku. Kemudian kutatap lagi layar monitorku. Kali ini aku iseng buka e-mailku, rasanya lebih baik aku balas saja dulu suratnya. But, upss.. There is a new email from Pablo, isinya cuma permintaan maaf karena nggak bisa call aku, dan dia juga menanyakan apa aku ada kuliah besok. Tapi dia tidak menyinggung rencananya untuk datang kesini. Aku menarik nafasku dan berpikir mungkin dia hanya bercanda dengan rencana kunjungannya. Sedikit kecewa nih, tapi biar sajalah. Mailnya kubalas dan kukatakan kalau aku memang ada kuliah besok jam 10. Hahhh.. dengan malas kumatikan komputerku dan bergegas mandi, karena sudah menjelang magrib.
Telepon berdering, kuseret langkahku ke ruang tengah dan ternyata Shasa yang menelepon. Katanya nggak bisa datang karena Ibunya mendadak minta diantarkan belanja. Yahhh, apa mau dikata. Aku kembali menuju kamarku, my sweet room, rasanya satu-satunya temanku saat ini adalah kamarku. Mama baru saja pergi ke jamuan makan malam dengan para koleganya di kantor, papa besok baru kembali. Shasa pergi dengan ibunya dan Pablo? aku tidak tau dimana cowok maya itu berada. Terakhir dia kirim e-mail tadi pagi dan icq nya juga tidak aktif. I felt so lonely.
Azan Isya baru saja selesai bergema. Aku tidak pernah ambil pusing untuk melakukan kewajibanku sholat. Waktu sholat sering kubiarkan berlalu begitu saja. Entahlah, ahhh.. aku tidak ingin memikirkannya. Cepat-cepat kutarik selimut, aku ingin tidur lebih awal .
Pukul 10 kurang 10 menit, aku tiba di kampusku Universitas Mulawarman, langsung menuju ke kelasku, tidak ingin sedikitpun telat karena biasanya bu Prapti selalu tepat waktu.
“ Hai Sha.” Kusapa Shasa yang ternyata sudah duduk manis di kursi kebanggaan kami.
“ Eh Nad, sorry ya aku nggak bisa datang semalam.” Katanya.
“ It’s OK, nggak apa-apa ko.” Kataku tersenyum sambil membuka tasku.
Bu Prapti tiba dan langsung menyampaikan materi kuliahnya, sejenak aku dan Shasa menghentikan percakapan kami.
Dua jam berlalu tanpa terasa, aku mengemasi bukuku dan menuju ke parkiran. Shasa sudah di jemput oleh Rino dari tadi, dan aku? Benar-benar membosankan.. kutinggalkan kampus dengan tidak bergairah.
Sudah tiga hari ini aku absen chatting dengan Pablo, karena dia selalu off line. Ah, biarkan saja. Mungkin dia sangat sibuk, pikirku. Kucoba untuk tidak memikirkannya.
Aku bosan… kuliah hari ini juga tidak membuatku bersemangat, dengan malas aku menuju ke parkiran si blue, Honda Civic satu-satunya milikku. Belum sempat aku membuka pintu mobil, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggilku. “Hi sweety”. Suara itu… tanpa berpaling kuhentikan sejenak langkahku. Apa aku tidak salah dengar? Ada seseorang yang memanggilku sweety. Setahuku yang memanggilku sweety cuma satu orang saja, tidak mungkin kalau orang itu yang ada di belakangku sekarang. Tidak mungkin Pablo yang menyapaku. Perlahan kubalikkan badanku dan kudapatkan seraut wajah asing tepat didepanku sambil tersenyum dan terlihat malu. Sesaat aku jadi terkesima, diakah Pablo? tanyaku dalam hati. Sesosok makhluk tampan dengan wajah khas orang bule, uppss.. nggak deh dia lebih mirip dengan Stefano Fiore pemain bola favoriteku dari Italia. Brewokan dan memakai kupluk.
“ Is that you, Pab?” tanyaku ragu.
“ Yeah.. it’s me, Sweety.” Jawabnya sambil menjabat tanganku.
“ My God, he is really cute.” Pujiku dalam hati.
Aku nggak tau harus melakukan apa. Yang bergejolak di kepalaku saat ini adalah bagaimana dia bisa sampai kesini dan mengenaliku, padahal kami tidak pernah bertukar photo. Walau kebingungan aku tetap mengajaknya ke mobilku dan meninggalkan kampus. Diperjalanan kami sama-sama diam, aku nggak tau apa yang mesti aku bicarakan dan aku juga tidak berani melihat ke arahnya. Masih tidak percaya kalau Pablo ada disebelahku sekarang.
“ Sudah makan siang? “ tanyaku basa-basi.
“ Belum.” Jawabnya singkat.
“ oh ya, Pab, darimana kamu bisa menemukan dan mengenaliku?” tanyaku penasaran.
“Kebetulan aku punya teman yang bekerja disini, jadi aku cukup menanyakan padanya mengenai kampus ini. Tapi kalau mengenai kamu, tadi aku menanyakanmu pada seorang cewek di gerbang kampus dan kebetulan dia mengenalmu, bahkan memberikan foto ini padaku dan mengatakan kalau kamu mungkin sedang berada di tempat parkir.” Jawabnya sambil menyerahkan selembar foto warna ukuran 4x6. Aku mengambil foto dari tangannya. Astaga, inikan fotoku dengan Shasa, jadi yang dia temui secara kebetulan adalah Shasa. Belum sempat aku memberikan komentar, tiba-tiba hpku berbunyi, sms dari Shasa. Selamat bertemu stefano fiore ya, gitu katanya. Aku tersenyum, dasar Shasa.
“ Kita langsung ke rumah saja ya.” Kataku.
Pablo cuma mengangguk. Aku jadi ingin ketawa sendiri. Dia berbeda sekali. Kalau saat chatting dia suka sekali mengobrol, tapi setelah aku ketemu dengannya ternyata dia pemalu.
“ Welcome to my home.” Kataku sambil mempersilahkannya masuk.
“Thank you.” Jawabnya pendek.
“ Silahkan duduk dulu, maaf saya tinggal sebentar.” Lanjutku.
Dia mengangguk. Aku langsung menuju belakang.
“ Bik Mirah masak apa nih? Tanyaku sambil membuka panci makanan.
“ Bibik masak soup daging Neng, tadi Ibu Neng minta dibikinkan.” Sahut Bik Mirah. Kebetulan sekali, aku ingin mengajak Pablo makan siang dulu.
“ Bik, tolong siapin makan siangnya, Nadya mengajak teman untuk makan siang disini.” Pintaku pada Bik Mirah.
“ Baik Neng, berapa orang Neng?” tanya Bik Mirah.
“ Satu aja kok Bik.” Jawabku sambil meninggalkan Bik Mirah setelah mengucapkan terima kasih pada Bik Mirah.
Aku menuju ke kamarku dan berganti pakaian kemudian menemui Pablo di ruang tamu.
Lho kemana dia, pikirku. Kok tidak ada di ruang tamu. Aku mencarinya sampai ke teras. Kemudian aku menuju ruang makan, tampak Bik Mirah masih asyik menyiapkan perlengkapan makan. “ Bibik lihat Pablo, teman saya yang barusan tidak ?” tanyaku.
“ Teman Neng yang orang bule itu ya Neng, oh, tadi dia tanya sama bibik, pake bahasa isyarat gitu.. sepertinya dia mau sholat, jadi Bibik antarkan dia ke Mushola di samping rumah.” Jawab Bik Mirah.
“ Sholat?” tanyaku lagi dengan tidak yakin.
“ Iya Neng, sholat. Kenapa Neng?” Bik Mirah balik bertanya.
“ Ehmm, nggak apa-apa kok Bik.” Jawabku sambil meninggalkan Bik Mirah yang sedikit keheranan.
Jadi dia muslim. Tuhan, aku tidak menyangka kalau aku bakal ketemu seorang cowok bule yang muslim. Memang nggak aneh sih, tapi baru kali ini aku menemukannya.
10 menit kemudian, Pablo muncul dihadapanku, dengan wajah yang masih terlihat basah. Dia tambah tampan, pujiku lagi dalam hati.
Langsung kuajak dia ke ruang makan. Dari awal sampai selesai makan aku sesekali mencuri pandang dan melihat bagaimana gayanya di meja makan. God, dia tenang sekali, dan kelihatannya santun sekali. Tidak seperti bule-bule yang sering kulihat di TV.. he.he..
Selesai makan, kami mengobrol di ruang keluarga. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua. Kami membicarakan banyak hal mulai dari hal-hal yang kecil sampai pada hal-hal yang berbau agama.
“ Kamu muslimahkan?” tanyanya padaku.
“ Ya.. tentu saja, aku seorang muslimah.” Jawabku sambil tersenyum.
“ Kenapa ? tanyaku lebih lanjut.
“ Kamu tidak ingin pakai jilbab? ” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku.
“ Maaf, kalau pertanyaan saya berlebihan.” Katanya.
Aku menggangguk dan tersenyum. Kami mengobrol banyak tentang hal-hal yang banyak juga. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga siang, Pablo pamit, katanya ada janji bertemu dengan temannya jam empat hari ini. Aku minta tolong Pak Ramli, supir kami untuk mengantarnya pulang.
“Bip..bip.. bip.. “ aku kaget dengan bunyi bip dari komputerku. Dengan sedikit malas icq ku jalankan. Heii.. Pablo yang memanggilku.
“ Assalamu’alaikum Nadie, “ dia menyapaku.
Oh God, aku segera menjawab salamnya.
“ Wa’alaikumsalam Pab, dimana sekarang ?” tanyaku antusias.
“ Di CafĂ© Internet Mall Mesra Indah, apa kabar ?” Jawabnya sambil bertanya.
Kabarku?? Bukankah kita baru bertemu tadi siang, kataku dalam hati.
“Aku baik-baik saja.” Jawabku sambil senyum sendiri.
Kembali kami ngobrol banyak malam itu, kali ini dia banyak bercerita padaku tentang keluarga Rasulullah, tentang siapa itu Siti Aisyah, Fatimah, serta sahabat-sahabat Rasul lainnya. Aku menjadi pembaca yang baik saja, sambil sesekali bertanya dan menyela. Dia juga mengatakan kalau dia senang bisa berkenalan denganku dan memuji kalau aku cantik, tapi katanya akan lebih cantik kalau aku menutup auratku dan memakai jilbab, karena jilbab banyak sekali manfaatnya, bisa mencegah timbulnya perzinahan dan juga hukumnya wajib bagi wanita muslim. Begitu katanya panjang lebar. Aku tidak memberikan komentar mengenai hal ini. Dua jam berlalu tanpa kusadari.
“ Nadie aku pamit dulu, dan maaf kalau kamu tidak berkenan dengan apa yang aku ceritakan, aku cuma ingin kamu cantik tapi tidak hanya di mata orang-orang tapi juga di mata Allah, secantik Aisyah dan Fatimah.” Katanya lagi dan mengucapkan salam berpamitan.
Aku masih menyimak apa yang telah dituliskannya di lembaran chatting, selama ini aku menutup mata dan tidak pernah peduli dengan hal seperti ini. Aku tidak tau aku harus bagaimana.. dua jam waktu yang cukup panjang tapi aku merasa seperti hanya sepuluh menit. Percakapanku dengan Pablo tentang ini membuat aku tidak tau harus berbuat apa.
Hari ini adalah hari terakhir Pablo berada di Samarinda, besok dia langsung terbang ke Jakarta dan kembali ke Perancis. Ada sesuatu yang aku dapatkan selama seminggu dia disini. Sesuatu yang baru mengisi jiwaku dan mungkin inilah yang selama ini aku cari. Aku belajar banyak tentang bagaimana indahnya sikap dan perilaku wanita-wanita muslim. Kebiasaan-kebiasaanku seperti chatting, gossip, molor sampai siang, atau jalan-jalan di mall mulai jarang kulakukan. Aku sendiri heran dengan perubahanku yang seperti ini. Kalimat – kalimat indah yang diucapkan Pablo sedikit demi sedikit mulai mempengaruhi tingkah dan pola pikirku.
Setelah seminggu kepulangan Pablo, aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Dia belum mengontakku sama sekali. Hmm… come on Pab, terus terang aku kangen sama kamu, sama cerita-cerita kamu, tentang Rasulullah, tentang Fatimah Az Zahra, tentang Aisyah r.a. hm.. apa yang terjadi padaku ya.. bahkan sahabatku Shasa juga heran melihat perubahanku, sampai geleng-geleng kepala.
“ Eh Neng, kucing tetanggaku kemarin mati ketabrak mobil gara-gara melamun terus.” Komentarnya mencoba membuatku tertawa. Aku cuma mesem aja mendengar komentarnya.
“ Sha, aku pengen merubah penampilanku.. bagaimana menurutmu ?“ tanyaku.
“ Wah, aku sih mendukung Nad, sepertinya penampilan kamu memang harus berubah, biar nggak kelihatan kaya orang sakit gitu.” Jawabnya sambil meledekku.
“ Hm.. boleh juga tuh, mulai besok aku akan mengubah penampilanku. Tapi kamu ntar jangan kaget ya kalau misalnya aku tambah manis.” Kataku sambil bergurau.
“ Ha..ha..ha.. “ Shasa tertawa tergelak-gelak mendengar ucapanku. “ berarti pulang kuliah kita langsung shopping dong.” Lanjutnya.
“ Eh.. maaf ya, kali ini aku nggak akan ngajak kamu, he..he.. kalau shoppingnya bareng kamu berarti bukan kejutan lagi dong. ” Kataku lagi.
“Yee.. “ Shasa cuma memanjangkan bibirnya.
Aku tersenyum melihat gayanya.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, aku memantapkan hatiku untuk melakukan perubahan ini. Mungkin mama ataupun papa juga shasa nantinya akan kaget melihat perubahanku. Tapi ini sudah menjadi pilihanku. Aku akan pakai jilbab besok. Kalau dikatakan ini karena Pablo, yah.. aku melakukan perubahan ini karena Pablo, karena kurasa jauh didalam hatiku diam-diam aku suka pada cowok bule itu, tapi juga lebih dikarenakan oleh ceritanya yang benar-benar membuat aku sadar bagaimana seharusnya aku sebagai seorang muslimah sejati harus bersikap. Aku juga ingin seperti Aisyah, Fatimah, dan terlihat cantik di mata Allah. Satu lagi hal penting yang membuat aku mengambil keputusan ini adalah aku tidak tidak tau berapa jatah usia yang diberikan Allah padaku karenanya aku tidak ingin meninggal nanti dalam keadaan telanjang (maaf J) atau tidak menutup auratku.
Ya… aku harus berubah. Tidak akan aku tunda - tunda lagi. Mulai besok, semua baju-baju ketatku, rok mini dan celana jinsku akan aku packing dan kuberikan pada mereka yang membutuhkan.
Jam empat sore kuajak Bik Mirah belanja semua keperluanku, mulai dari rok dan baju panjang, gamis, jilbab, bahkan sampai kaos kaki. Tak lupa aku juga mampir ke gramedia untuk belanja buku-buku serta kaset – kaset islami. Waktu bik mirah menanyakan barang-barang itu untuk siapa, kujawab untukku dan aku akan mulai memakainya besok. Bik Mirah tersenyum dan tanpa sungkan memelukku sambil berkata alhamdulillah.
Kami tiba di rumah 15 menit sebelum bedug Magrib, aku segera mandi dan mengambil air wudhu. Sholat di mushola bersama Bik Mirah dan diimami oleh P’ Ramli supir kami yang sebelumnya terheran-heran melihatku memasuki musholla. Aku menangis begitu selesai sholat dan berdoa pada Allah, memohon ampunan-Nya atas kelalaianku selama ini.
04 April 2001.
Kau tau Pab, sejak kemunculan pertamaku menggunakan jilbab, semua teman-temanku kaget, termasuk Shasa. Dia tidak pernah membayangkan kalau aku akan memakai jilbab. Sampai-sampai dia bertanya apa aku sudah yakin dengan keputusanku untuk menggunakan jilbab. Saat itu aku hanya menjawab, kapan lagi aku harus menutup auratku kalau tidak dari sekarang, apalagi aku tidak tau berapa jatah usiaku, jadi aku harus mulai dari sekarang. Shasa akhirnya tidak banyak berkomentar. Kulihat matanya berkaca-kaca menatapku. Dan tahukah kau juga Pab, mama yang paling kaget dengan penampilanku. Saat sarapan pagi, beliau begitu terkejut ketika melihatku duduk didepan meja makan dengan menggunakan jilbab rapi. Sedangkan papa tanggapannya biasa aja. beliau hanya bilang “ anak papa terlihat jauh lebih cantik dan dewasa”. Alhamdulillah Pab, langkah awalku mendapatkan sambutan hangat serta dukungan dari keluarga dan teman-temanku. Ini semua terjadi karena pertemuan kita, diawali dengan cerita-cerita kamu, yang benar-benar membuatku membuka mata, membuatku akhirnya sadar dan berpikir kemana sebaiknya arahku melangkah.
Oktober 2001.
Pab, sudah setengah tahun sejak pertemuan kita yang lalu, kamu tidak pernah lagi on air di icq, juga tidak pernah mengirimkan e-mail. Aku benar-benar kehilangan jejakmu. Padahal sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih, karena sudah membuka mataku dan membuatku berpikir ke arah mana sebaiknya kubawa langkahku. Alhamdulillah sampai saat ini aku tetap yakin dan istiqamah bahwa apa yang sudah aku lakukan pada diriku insyaallah membawa ke arah yang lebih baik nantinya.
Hm.. aku menghela nafasku, kututup diaryku dan beranjak ke meja belajarku. Besok ada tugas kuliah yang harus dikumpulkan. Aku segera membuka buku catatan dan menyelesaikan tugas ini secepatnya.
Alhamdulillah tugasku selesai, pikirku. Kulihat sekilas jam dinding di kamarku, ternyata sudah jam setengah sepuluh. Aku langsung merebahkan diri ke kasurku dan memejamkan mata. Sampai tiba-tiba.. bip..bip..bip..bip.. .. antara sadar dan tidak aku terbangun dan melihat ke arah komputerku dan ternyata aku lupa mematikannya. Haaa?? Apa aku tak salah lihat?? Pablo memanggilku di ICQ. Aku mengucek-ngucek mataku dan melihat ke jam dinding, ahh.. baru 15 menit aku terpejam. Antara percaya dan tidak aku duduk ke meja komputerku dan menatap layarnya dimana Pablo masih terus memanggilku. Segera kuklik namanya dan …
“ Assalamu’alaikum Nadie, how are you..” katanya di icq.
Yaa.. dia benar-benar Pablo.. saat itu juga aku cerita padanya tentang semua yang ingin aku ceritakan, aku tidak ingin menunda ceritaku sampai besok atau pun nanti.
“ Thanks Pab, sudah membuka mataku dengan cerita-ceritamu yang dulu. Sekali lagi terima kasih.” Kataku mengakhiri ceritaku.
“It’s OK Nadie, aku sudah tau semua yang terjadi padamu sejak tiga bulan yang lalu dan kamu tidak perlu berterima kasih padaku.” Katanya.
Haa? Benarkah itu? Aku kaget.
Kemudian Pablo cerita kalau dia sekarang sudah bekerja dan menetap di kotaku sejak tiga bulan yang lalu, sengaja tidak mengontakku tapi dia selalu mengikuti semua perkembanganku.
Pablo mengundangku untuk makan malam besok dirumahnya. Katanya ada kejutan untukku. Aku mengiyakan permintaannya. Setelah off line aku mengontak shasa. Syukurlah dia belum tidur. Kuceritakan tentang undangan makan malam di rumah pablo dan aku mengajaknya ikut serta.
Aku mulai nervous ketika kakiku menginjak halaman rumah bercat hijau yang mungil dan asri. Shasa mengangguk dan menyakinkanku agar tetap tenang dan tidak gugup. Terlihat pintu rumah sudah terbuka jadi kami tidak perlu membunyikan bel.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.”
Terdengar sahutan dari dalam rumah. Tak lama tampaklah seorang gadis muda yang cantik dan menggunakan kerudung biru serasi dengan warna bola matanya yang juga biru. Aku mulai menduga-duga dalam hatiku. Apakah dia saudara pablo ataukah dia ? aku menggantungkan pertanyaanku. Grogi semakin kencang melanda tubuhku.
“ You must be Nadya.” Sapanya dengan suara lembut sambil menyalamiku dan tak lupa cipika cipiki, begitu juga dengan Shasa.
Aku mengangguk dan tersenyum. “Ya, I’m Nadya. Nice to meet you”
“Ayo langsung masuk saja, jangan sungkan. Pablo sudah menunggu di dalam.” Katanya ramah.
Kami melangkah masuk bersama. Di ruang makan terlihat Pablo menyiapkan segala keperluan untuk makan malam. Sekali lagi aku dan shasa mengucapkan salam. Pablo menjawab sambil tersenyum.
“ By the way, this is Aisyah, my wife.” Pablo mengenalkan gadis itu sebagai isterinya.
Ucapan Pablo kurasakan membuat lututku bergetar. Seketika grogi yang tadinya melandaku berganti dengan kecewa. Tapi aku berusaha tidak menampakkannya. Aku tidak ingin dia tau kalau aku diam-diam mengharapkannya. Shasa menatapku. Lewat tatapan itu aku tau kalau dia berusaha menguatkanku agar aku tidak memperlihatkan rasa kecewaku. Makan malam berjalan dengan lancar dan aku bisa melewatinya tanpa harus terlihat kecewa.
Malam ini aku belajar bahwa segala sesuatu yang kita harapkan belum tentu bisa didapatkan. Bertemu pablo adalah hal paling indah dalam kisah kehidupanku. Pertama kali berharap, pertama kali jatuh cinta dan pertama kali kecewa. Benar-benar pelajaran cinta yang sungguh berharga.
From Kotaraja with love,Okt 2006


