Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

August 5, 2007

Mimpi Adinda

Filed under: Uncategorized

“Dhea, Papa mau bicara sebentar.”

Gadis berusia dua puluh dua tahun itu menghentikan langkahnya. Urung masuk ke kamarnya yang terletak dilantai dua.

“Iya Pa.” Aku masih berdiri di anak tangga.

“Kita diundang makan malam di rumah Om Dani, Papa ingin kamu ikut besok malam.” Papa berkata tanpa basa-basi. Ini artinya aku harus menurut. Tidak boleh ada kata tidak. Kebiasaan Papa kalau tidak ingin dibantah memang seperti ini.

“Iya Pa.”Sekali lagi hanya itu yang bisa kukatakan.

Papa berlalu.

Ah, pasti ini bukan makan malam biasa, pikirku. Kejadian yang sudah sering terjadi. Akhir-akhir ini Papa memang sedang gencar-gencarnya mencarikan calon suami untukku. Ada saja cara Papa menjodohkanku dengan anak salah satu dari rekan bisnisnya.

Aku memasuki kamar dengan pikiran yang tak menentu. Keinginan untuk tidak hadir dalam makan malam itu tentu saja lebih besar dari pada keinginanku yang lain. Tapi apa yang harus kulakukan? Pikirku. Kalau aku menolak sama saja membangkitkan macan yang sedang tertidur. Ihhh.. tak bisa kubayangkan bagaimana wajah Papa kalau marah. Pasti urat di lehernya akan membesar dan wajahnya jadi seperti batu, keras.

“Ya udah Dhe, cuma makan malam kan, kenapa kamu harus takut?”

Indi, sahabatku di kantor memberikan pendapatnya setelah aku bercerita tentang hal ini sambil menyantap makan siang di kantin.

“Tapi Ndi, kamu tau kan kebiasaan Papa, pasti ada udang di balik ember.” Kataku lagi.

“Ember apaan? Jangan negative thinking dulu. Lagian kalau memang benar kamu mau dijodohkan itu malah lebih baik.” Cerocos Indi.

“Baik apanya Ndi? Yang jalanin kehidupan itu nantinya aku bukan Papa. Ntar kalau ternyata kami tidak ada kecocokan bagaimana?” Aku tidak setuju dengan apa yang dikatakan Indi.

“Non, tidak ada orang tua yang mau mencelakakan anaknya. Kalau Papamu mau menjodohkan kamu berarti Papamu peduli akan kehidupan kamu, bukan malah sebaliknya.” Kata Indi dengan gayanya yang khas. Seperti seorang guru yang sedang menasehati muridnya yang melakukan kesalahan.

“Ah, entahlah. Yang pasti aku bosan dengan keinginan Papa yang selalu memintaku untuk segera menikah.” Pikiranku  bertambah kusut.

“The decision is yours. Tapi kalau aku jadi kamu maka aku akan mengikuti keinginan Papaku. Daripada nyari tapi tidak ketemu, iya kan?” Indi mengedipkan matanya padaku  sambil tersenyum. Iseng.

“Ahh.. sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Ntar pulangnya dijemput Bang Andri atau aku antar nih?” Tanyaku.

“Diantar aja ya, please.” Pinta Indi memelas.

*** bersambung *** 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita