Mimpi Adinda (part 2)
“Kak, ayo cepat. Sudah ditunggu Papa di mobil.” Suara pop Mischa adikku mengagetkanku.
Huhh.. ini makan malam yang sudah kesekian kalinya. Apa lagi yang akan Papa rencanakan kali ini. Keluarga Om Dani memang sudah akrab dengan kami, kali ini beliau yang mengundang kami makan malam. Mischa bilang bahwa anaknya Om Dani yang baru menyelesaikan kuliahnya di Faculty of Law University of Hamburg Jerman, pulang ke Indonesia. Aku tidak peduli dia lulusan dari mana, bagiku lulusan luar negeri atau bukan yang penting ilmunya bisa dia gunakan sebaik-baiknya dan tidak sombong dengan gelar yang dia dapatkan. Seperti aku ini. he..he.. walaupun hanya lulusan D3 Sekretaris tapi aku berusaha untuk mengamalkan ilmuku sebaik-baiknya. Aku berkata dalam hatinya.
Aku berjalan terburu-buru dengan beragam pikiran memenuhi kepalanya menuju ke mobil dimana Papa, Mama dan Mischa sudah menunggu.
“Papa tidak ingin kamu telat dalam makan malam kali ini.” Begitu alasan Papa ketika aku ingin mengendarai mobil sendiri.
Makan malam rasanya begitu kaku walau derai tawa menghiasi sepanjang makan malam kami. Aku merasa tidak nyaman sama sekali. Bukan karena makanan yang disajikan tidak enak. Tapi karena didepanku duduk seorang lelaki yang menurut penilaianku mendapatkan nilai sepuluh. Upss. Kenapa aku jadi genit begini. Kutahan senyumku setelah menyadari apa yang ada dipikiranku.
Setelah makan malam, Papa dan Mama bersama Om dan Tante Dani meneruskan perbincangan di ruang tengah. Aku gerah mengikuti pembicaraan tentang bisnis mereka dan minta ijin keluar untuk menghirup segarnya udara malam. Sambil menatap langit Aku duduk di ayunan yang ada di taman.
“Itu Andromeda, rasi bintang yang penampakannya paling baik bulan November ini.” Satu suara asing tiba-tiba terdengar disampingku.
Aku menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat seorang lelaki dengan pandangan dan telunjuknya masih terarah ke langit yang cerah dan mengarah ke sebuah rasi bintang yang tadi disebutnya dengan Andromeda.
“Boleh duduk disini kan?” Tanyanya setelah beberapa saat.
Aku mengangguk. Aneh, inikan rumahnya kenapa harus minta ijin padaku, pikirku. Kami duduk bersama di ayunan.
“Aku Rio.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.
Aku tau, tadi Om Dani sudah mengatakan padaku siapa namamu, kataku dalam hati.
“Dhea.” Balasnya.
”Nah, Kalau rasi yang disebelah utara andromeda itu namanya cassiopeia. Cassiopeia adalah seorang ratu legenda dari Ethiopia. Dia ibu dari Putri Andromeda.” Katanya tanpa diminta.
”Hmm… begitu ya.” Cuma itu yang bisa kukatakan.
Sejurus kemudian yang ada hanya diam. Dalam hati aku berharap semoga Papa tidak menjodohkanku dengan Rio. Rio memang tidak kurang satu apapun, bahkan wajahnya bisa dikatakan diatas rata-rata daripada laki-laki lain yang pernah dijodohkan Papa padaku. Tapi menurutku, Rio terlalu kuno dan pendiam. Lihat saja caranya berpakaian. Kemeja lengan panjang dan celana dari bahan kain yang menurutku sudah ketinggalan kereta. Masih untung kedua matanya tidak dihiasi dengan kacamata yang besar dan tebal. Hikkss…
Akhirnya yang ditunggu datang juga. Papa mengajak kami pulang setelah mengobrol selama dua jam. Waktu berputar sangat lambat rasanya.
Aku sudah tidak kaget lagi ketika Papa bilang bahwa tadi terjadi pembicaraan mengenai perjodohanku dan Rio. Memang itu yang Papa inginkan, kataku dalam hati. Yang tidak ku mengerti adalah aku hanya diberi waktu empat bulan untuk mengenal Rio lebih jauh.
“Kenapa harus terburu-buru Pa?” Aku tak setuju dengan tenggang waktu empat bulan itu.
“Kamu masih punya waktu empat bulan untuk mengenalnya, jadi jangan cari alasan dengan menggunakan kata terburu-buru.” Papa tidak peduli dengan pertanyaanku.
“Ma, please…”Aku berharap suara Mama akan berada dipihakku.
Setali tiga uang, Mama hanya tersenyum dan memintaku untuk mencoba mengenal Rio terlebih dahulu. Tiba-tiba dunia terasa jadi sempit.
Kenapa aku tidak dibiarkan untuk memilih apa yang akan kujalani nanti? Kenapa aku harus mendapatkan apa yang seharusnya bisa kucari sendiri? Kalau begini, apa lagi yang tersisa untuk kupikirkan?


