Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

August 17, 2007

Mimpi Adinda (part 3)

Filed under: Uncategorized

“Selamat ya Dhe, mudah-mudahan jadi keluarga yang sakinah.” Kata Indi saat menghadiri resepsi pernikahan kami.

Prosesi pernikahan yang melelahkan akhirnya selesai sudah. Sekilas kutatap Rio. Terlihat wajah tampan itu juga menyimpan keletihan. Kini aku sudah menjadi isteri Rio, lelaki yang baru kukenal selama empat bulan. Satu-satunya yang kuketahui tentang lelaki ini adalah kesukaannya menghabiskan waktu dengan laptop mini yang selalu setia menemaninya. 

Seminggu kemudian kami pindah ke rumah yang dihadiahkan oleh Papa. Mata Mama berkaca-kaca. Aku memeluk Mama sambil berkata bahwa aku akan sering mengunjungi Mama. Selama ini memang aku sangat dekat dengan Mama. Karena Mama jugalah aku bersedia menerima perjodohan ini. Mama bilang hanya Rio yang cocok untukku. Ahh..

Menikah tidak menghalangiku untuk berkarir dan melakukan aktifitasku seperti biasa. Mulai dari jalan ke mall bahkan lembur sampai malam di kantor juga tetap kulakukan. Rio tidak pernah melarangnya tapi sering terlihat tatap tanya dari kedua matanya kalau aku mengatakan akan pergi keluar atau mau lembur sampai malam. Mungkin juga ini adalah caraku untuk menghindar darinya. Aku tidak ingin jatuh cinta padanya. Paling tidak untuk saat ini.

”Ass. Dinda, jangan lupa makan siang ya”

Sms dari Rio mengingatkanku untuk makan. Tidak hanya makan, sholat dan bahkan juga mengirimkan pesan cinta padaku. Aku terkadang geli sendiri membaca sms cintanya. Tapi sms itu tidak pernah kubalas karena aku belum yakin kalau dia mencintai Rio. Jadi sms cinta itu dibiarkannya saja memenuhi mailbox hp.

”Dinda, cahaya cinta selalu bersinar untukmu. Dapatkah kau merengkuh dan membiarkannya terang dalam hatimu. Jagalah cahayanya untuk kita, jangan sampai  tertutup oleh selaput ego yang akan meredupkannya. Bisakan Dinda?”

Sms cinta lagi, pikirku. Menurutku Rio terlalu puitis. Biasanya kalau orang yang puitis akan memiliki sosok yang romantis di dirinya, tapi tidak dengan Rio. Dia terlalu pendiam cenderung pasif. Tidak romantis sama sekali.

”Hari ini aku lembur sampai malam mungkin langsung menginap di kantor.” Suatu hari aku minta ijin saat Rio sedang asyik mengetik di laptopnya. Terhenyak Rio menghentikan senam jarinya.

”Apa ada hal yang begitu penting sampai harus menginap disana?” Tanyanya sambil menatapku.

”Ya, ada beberapa laporan yang harus segera diselesaikan dan dilaporkan ke pimpinanku besok.” Jawabku pendek.

Rio terdengar mendehem. Aku tidak bisa menangkap arti dehemannya. Tapi kuanggap itu sebagai sebuah persetujuan.

”Dinda, kerjaannya sudah selesai belum?” Sms dari Rio. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul dua malam.

Tidak kubalas.

”Kujemput ya?” Kata Rio lagi di sms.

Heii.. tumben mau menjemputku, pikirku.

”Tidak usah, Aku nginap di kantor dengan Indi. Thanks ya.” Aku membalas smsnya.

Ah Dinda.. ternyata kau memang belum mengenalku, Tanpa sadar Rio menuliskan kalimat itu dilaptopnya. Sebenarnya aku ingin dengan diamku ini maka kau akan mengerti mauku. Diamku ini bukan sekedar isyarat setuju tapi aku menginginkan lebih dari itu. Aku tau belum cukup bagimu untuk mengenalku. Begitupun aku. Sering aku mencari cara bagaimana supaya kau menatapku lama dan tersenyum dengan mata indahmu. Saat ini aku hanya bisa berharap semoga cinta merengkuh kita dalam satu. Cinta akan membuat beda kita beriringan, cinta akan menjadi jejak kita untuk menelusuri jalan menuju surga. Selamat tidur Adinda…

Rio tertidur. Terlelap dalam mimpi bidadarinya.

  **** Bersambung ****






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita