Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

August 24, 2007

Mimpi Adinda (part 4)

Filed under: Uncategorized

Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Rio berjalan-jalan berkeliling kompleks rumah mereka. Ketika kembali ke rumah di dapatinya Dhea sedang tertidur di kursi teras rumah.

”Assalamu’alaikum.” Salam Rio sontak membuatku kaget.

” Kunciku tertinggal di laci meja kerjaku.” Kataku setelah membalas salam Rio.

Rio menatap wajah Dhea yang terlihat lelah.

”Kubuatkan teh hangat ya?” Tawar Rio.

”Gak perlu, aku akan langsung kembali ke kantor.” Sahutku.

Dinda, kenapa hanya acuh yang aku dapatkan darimu. Tidakkah kau bisa menatapku sebentar saja. Rio hanya bisa menyimpan kata-kata ini dalam hati.

”Dinda, pulang jam berapa nanti, kujemput ya ?”

Aku menghentikan pekerjaanku sejenak. Sms dari Rio. Akhir-akhir ini Rio semakin sering mengirimkan smsnya. Apakah ini sebuah pertanda kalau telah ada sesuatu dalam kehidupan mereka?

”Tidak usah, ntar aku masih ada keperluan, jadi nanti pulangnya bareng Indi. ”Balasku.

Rio membaca sms balasan dari Dhea.

”Kujemput saja, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” balas Rio lagi.

Setelah smsnya terkirim Rio langsung mengambil kunci mobilnya dan menuju kantor Dhea. Kita harus bicara Dinda. Keheningan kita ini tidak boleh lagi dibiarkan berlarut, katanya dalam hati.

Rio tiba tepat pada waktunya. Saat dimana semua karyawan di kantor Dhea pulang.

”Kan sudah kubilang tidak usah dijemput. Aku ada keperluan sebentar dengan Indi.” Kataku begitu tiba di mobil Rio.

”Please Dhe, kita perlu bicara.” Terdengar suara Rio sedikit bergetar.

”Nanti di rumah saja. Aku buru-buru nih.” Sahutku.

”Aku tidak sabar menunggu sampai kamu pulang ke rumah.” Katanya.

”Masuklah ke mobil ” Lanjutnya.

”Ini semua tentang kehidupan kita.” Katanya setelah aku memasuki mobil.

”Kita sudah menikah walau tanpa rasa cinta sedikitpun. Seharusnya kita mencoba untuk saling mencintai bukan menjauhkan diri seperti ini”. Katanya panjang lebar.

”Aku ingin kau lebih mengenalku dan membiarkan cinta itu tumbuh lalu mewarnai kehidupan kita.” Lanjutnya.

”Tolong jangan menghindar terus-terusan.” Sesaat dia diam.

”Apa salah kalau aku ingin kau bisa mengurangi aktifitas atau pekerjaanmu dan meluangkan waktu untukku. Aku tidak berharap lebih, yang kuinginkan hanya satu, kau belajar menerima dan mencintaiku. Seperti halnya yang aku lakukan” Nada suara Rio masih bergetar lalu kemudian diam.

”Kalau bicaranya sudah selesai, aku mau pergi sekarang.” Kataku sambil membuka pintu mobil dan keluar. Tanpa komentar apapun untuk semua yang dikatakan Rio padanya.  

”Dinda please..” Katanya mengikuti keluar dari mobil.

”Maaf, tidak ada yang bisa kukatakan untuk saat ini dan aku akan sangat berterima kasih kalau kau berhenti memanggilku dengan Dinda.” Aku berkata tanpa basa-basi lagi. Pikiranku campur aduk hingga aku mengatakan apa yang saat itu terbersit dikepalaku. Kutinggalkan Rio yang masih belum puas akan ucapanku dengan setengah berlari dan menghentikan sebuah taksi. Di taksi perasaanku bukannya lega tapi malah seperti ada yang tidak beres. Masih tidak menyangka kalau Rio akan mengatakan hal itu. Belajar mencintai adalah pekerjaan yang sungguh tidak gampang dan tentu saja hal ini tidak bisa instant.

”Ndi, aku numpang tidur di sini ya.” Kataku ketika tiba di rumah Indi.

”Sudah ijin pada Rio?” Tanya Indi.

Aku menggeleng.

”Hei Bu, Rio itu suamimu. Biar bagaimanapun kamu harus minta ijin dulu darinya.” Kata Indi.

”Paling tidak kamu harus telepon atau sms, kasih tau dia kalau kamu nginap disini. Kasihan kan kalau dia sampai panik nyari kamu.” Lanjut Indi lagi.

Aku menggeleng lagi.

”Ada apa nih? Lagi berantem ya?” Tanya Indi sambil duduk disebelah Dhea

Aku mengangkat bahu. Terdengar hembusan nafas Indi.

”Sorry Dhe, aku tidak setuju kamu nginap disini kalau ada masalah dengan Rio.” Katanya.

Aku menatap mata bulat Indi.

”Jadi aku tidak boleh nginap disini?”

Indi menggeleng.

”Aku tidak mau kamu menghindar dari masalahmu..”

”I’m really sorry Dhea.” Kata Indi sambil menatap Dhea lekat.

Aku meninggalkan Indi tanpa berkata-apa-apa.

”Dhea.. tunggu dulu.. ” Indi berusaha menahan Dhea.

Sambil mengangkat tanganku ke atas kutinggalkan Indi. Sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Indi. Apakah memang benar aku berlari dari masalah selama ini? Pikirku dalam hati. Galau mulai merasuk pikiranku.

Setelah kepergian Dhea yang membawa kemarahannya, Indi menghubungi Rio dan memberitahukan apa yang baru saja terjadi.

Rio segera mengambil kunci mobilnya dan mencari Dhea. Azan Maghrib berkumandang tapi Rio belum juga menemukan sosok Dhea. Dari informasi Indi, Rio mencari ke tempat-tempat yang biasa didatangi oleh Dhea dan Indi, juga menghubungi ponsel Dhea. Tapi Nihil.

Rio menghentikan mobilnya di sebuah mesjid dan menjalankan sholat Maghrib.

”Ya Allah, lindungi isteriku dimanapun dia berada. Terangi hatinya agar bisa berpikir jernih dan jauhkanlah dia dari segala hal yang buruk. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, bukalah pintu hati kami agar selalu melakukan hal-hal yang baik dan bimbinglah kami ke jalan yang engkau ridhoi, amin.” Rio berdoa dengan khusyuk.

Setelah selesai sholat Rio kembali mencari isterinya. Isteri yang perlahan mulai dia cintai, cinta yang berusaha ditumbuhkannya disela kesibukannya. Sambil terus berdoa dalam hati berharap bisa menemukan Dhea.

            Malam beranjak larut. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tapi Dhea belum juga ditemukan. Rio pulang sambil berharap Dhea akan berada di rumah.Tapi apa yang dia harapkan tidak terjadi. Tidak ada sosok Dhea ketika dia tiba di rumah. Akhirnya Rio hanya bisa duduk termenung sambil terus menunggu dan memikirkan Dhea.

*** bersambung *** 

 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://inita.blogsome.com/2007/08/24/mimpi-adinda-part-4/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita