Mimpi Adinda (part 5)
Aku kembali ke kantor sambil membawa rasa marah atas sikap Indi. Untungnya di kantor ada musholla sekaligus bisa dijadikan tempat istirahat. Tidak ada seorangpun yang berada dikantor jam-jam sekarang kecuali dua orang security yang berjaga di pintu gerbang kantor. Aku terduduk di karpet musholla, pikiranku tidak menentu.
Aku beranjak pulang ke rumah dan mendapatkan rumah dalam keadaan ramai dan banyak tetangga yang datang. Aku kaget. Ada apa ini, pikirku dalam hati. Aku melangkah masuk, didalam rumah terlihat Tante Dani, ibu mertuaku sedang menangis sambil memeluk seseorang yang berlumuran darah.
”Ya Allah, apa yang terjadi Ma?” teriakku ketika tiba didekat Beliau.
”Rio… Rio telah meninggalkan kita.” Isak tangis Mama begitu memilukan.
Segera tangisku tumpah. Aku tidak percaya. Mamaku yang juga ada disana memelukku dan bercerita padaku bahwa rumah kami kemalingan dan Rio berusaha melawan tapi dia tertembak oleh maling yang berhasil kabur.
”Tidak.. Tidak mungkin.” kataku terisak-isak tak percaya.
Aku meraih tubuh Rio dan memeluknya sambil terus menggoyangkan tubuhnya. Berharap Rio akan bangun dan membalas pelukanku.
”Rio, please… bangunlah. Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Ayo Kanda bangun.. bicaralah padaku..” Kataku sambil terus mengguncang tubuh Rio yang dingin.
”Kanda ayo bangun…. ini aku Adinda.” Tangisku semakin menjadi.
Mama menarik tanganku dan mempersilahkan petugas medis mengangkat tubuh Rio menuju ke ambulan.
”Please Kanda, jangan tinggalkan aku.” Aku menjerit sekuatnya.
Mama dan Papa juga mertuaku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aakkhh…… Aku terbangun dengan keringat dingin yang terasa mengucur di seluruh tubuhku. Masih tersisa sedu sedanku. Ternyata aku bermimpi buruk dan benar-benar menangis. Kulihat jam tanganku yang masih menunjukkan jam dua dini hari. Seketika aku teringat Rio. Rio yang mungkin saat ini sedang panik mencariku. Ya Allah, ampuni aku yang sudah menyia-nyiakan suamiku. Ampuni dosaku karena aku sudah dzolim pada suamiku. Aku menangis menyesali sikap dinginku. Ya Allah bagaimana kalau mimpiku benar-benar nyata? Aku mulai khawatir. Ponsel kuaktifkan. Banyak sekali pesan dan telepon yang masuk dari Rio. Ya Allah, Aku benar-benar menyesali semuanya. Sambil mencoba untuk menahan tangis akan penyesalan, kutekan nomor ponsel Rio. Belum sempat tersambung, panggilan kumatikan, apa yang harus kukatakan pada Rio? Pikirku. Kucoba sekali lagi. Tapi sama seperti sebelumnya kembali panggilan itu kumatikan. Aku malu atas semua yang telah kulakukan pada Rio.
”Assalamu’alaikum. Kanda, anggaplah saat ini aku sedang terlelap, maukah kau membangunkanku dari tidur ini? Maukah kau memaafkan sikapku selama ini? Maaf karena aku belum sempat belajar untuk mencintaimu, maaf karena aku terlalu lena dalam angkuhku dan maaf karena aku belum bisa menjadi isteri yang baik untukmu.”
Sms terkirim. Aku Berharap Rio belum tertidur dan menjawab smsnya.
Rio yang terlelap kaget begitu mendengar potongan lagu ungu ”andai kutau” dari ponselnya.
Satu pesan masuk.
Rio membacanya, kemudian ponselnya berbunyi lagi.
”Kanda, maukan memanggilku Dinda lagi?”
Catatan sebuah perjalanan,
Midnight, 020207


