Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

August 30, 2007

Denandu

Filed under: Uncategorized

“Arrgghhh.. sakit..sakit..” Denandu berteriak sambil memberontak sekuat tenaga.

“Mak..cepat kesini, Kak Andu kumat lagi.” Uli berteriak.

Uli adalah adikku satu-satunya. Dia sangat periang. Tidak pernah sekalipun aku melihatnya marah. Mungkin karena sifatnya yang periang jadi dia menanggapi semua hal dengan kacamata positif.

Mamak berlari ke kamar. Tergambar wajah cemas saat wanita berkerudung yang berusia empat puluh lima tahun itu memasuki kamar Andu.

Denandu masih terkapar sambil terus berteriak, kesurupan. Sudah dua bulan terakhir ini cewek berkulit kuning langsat, manis dan berjilbab itu sering kesurupan. Tidak peduli dalam kondisi dan situasi apapun. Bahkan sering juga terjadi saat dia sedang kuliah. Mamak dan Uli masih mencoba menyadarkan Denandu. Mamak terus memegang tangannya sambil terus membaca ayat kursi. Kira-kira dua puluh lima menit lamanya ketika akhirnya kesadaran Denandu pulih. Terlihat wajahnya yang begitu lelah dan berkeringat.

“Kenapa lagi Ndu?” Mamak bertanya sambil membantu Denandu duduk.

“Saya tak tahu Mak, tiba-tiba saja kepala saya pusing dan badan rasanya dingin sekali.”

“Makanya Kakak jangan suka melamun.” Timpal Uli.

Aku tidak menanggapi perkataan adikku. Memang kata orang kalau sering melamun gampang kesurupan. Tapi menurutku itu belum tentu karena aku sendiri tidak atau bahkan bisa dibilang tidak sempat melamun karena kesibukanku yang begitu padat. 

“Tadi pagi kemana?” Mamak bertanya padaku.

“Tidak kemana-mana Mak.” Jawabku.

“Mamak takut kamu lemah bulu makanya gampang keteguran.” Sambung Mamak lagi.

“Ah, Mamak ini ada-ada saja.” Sahutku tidak percaya.

Mamak dan juga keluargaku yang lain masih sangat percaya dengan hal-hal yang berbau mistis seperti ini. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku tidak pernah percaya dengan hal-hal seperti ini. Dulu dikeluarga kami kalau ada yang sakit tidak pergi ke dokter melainkan ke orang pintar. Bahkan nenekku sendiri bisa mengobati. Antara percaya dan tidak memang sering juga penyakit itu sembuh setelah diobati oleh nenekku. Tapi tetap saja tidak masuk akal karena pengobatannya dengan cara mengusir jin dari dalam tubuh si sakit. Hiiii..

Menurut nenekku aku di pugai orang. Mungkin ada orang yang merasa tersinggung atas sikap ataupun ucapanku sehingga memugaiku. Aku santai aja. Menurutku belum tentu begitu. Kalau dilihat dari pergaulanku aku jarang sekali berkumpul dengan orang-orang di luar rumah kecuali pergi ke organisasi yang kuikuti atau ke kampus.

Mamak menghela nafasnya. Ah Nak, kenapa kau tidak mau percaya pada hal seperti ini, pikir Mamak dalam hati.

“Jadi ke kampus kah?” Tanya Mamak akhirnya.

“Tak tau Mak, Saya mau istirahat saja dulu. Badan rasanya sakit.” Kataku.

Mamak menatapku sebentar sebelum akhirnya kembali ke dapur.

Ku rebahkan diriku di kasur sambil berpikir kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali kehilangan kesadaran diri dan kesurupan. Aku sudah ke dokter, hasilnya aku tidak sakit apa-apa. Dokter malah bilang kalau aku terlalu capek. Atau jangan-jangan memang benar yang dikatakan nenek kalau aku di pugai orang, iiiii… Aku mencoba berpikir secara rasional. Jaman sekarang mana ada lagi yang pake guna-guna, pikirku.

Setelah beristirahat hampir dua jam lamanya, aku merasa sudah agak mendingan. Aku harus ke kampus karena ada kuliah hari ini. Ketika pamit, Mamak hanya berpesan padaku supaya hati-hati dan tidak banyak melamun.

***

Aku tiba di kampus dan berusaha untuk melupakan kejadian yang terjadi tadi untuk sejenak. Aku tidak mau konsentrasiku buyar hanya karena memikirkan kenapa aku sering kesurupan akhir-akhir ini.

Kepalaku mulai terasa pening. Hahhh.. kuliah rasanya lama sekali selesai. Kutatap keluar jendela ruang kelasku. Seorang wanita cantik melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya. Wanita itu terus mendekat dan kemudian mencium pipi dan memelukku. Aku merasa hawa yang begitu dingin. Samar kudengar suara Nur sahabatku yang berteriak memanggil namaku. Kemudian semuanya hilang.

Begitu sadar aku sudah berada di ruangan yang bercat serba putih. Bau minyak kayu putih masih menempel di hidungku. Pasti aku di klinik kampus sekarang, pikirku dalam hati. Terlihat wajah Nur dan seorang perawat. Aku duduk dan bersandar di ranjang. Kepalaku masih terasa seperti beputar.

”Istirahat saja dulu kalau masih pusing” Kata Nur.

Aku mengangguk. Kupejamkan mataku sebentar, berharap rasa pusing akan segera hilang.

***

Mamak duduk disisiku dengan tatapan yang tidak bisa kutebak setelah Nur mengatakan kalau aku tadi kesurupan lagi di kampus. Begitu juga Uli dan nenekku. Nenek kembali bilang kalau aku perlu diobati.

“Tak usah Nek, Andu tak mau diobati seperti itu. Itu tidak ada di ajarkan dalam agama kita.” Aku menolak tegas.

“Memang tak ada dalam agama, tapi ini sudah ada di adat kita dari dulu.” Nenek menyahutiku dengan sedikit marah. Beliau sepertinya tersinggung karena aku tidak percaya terhadap hal ini.

“Lin, Kau harus mengajarkan Andu untuk menghormati kebiasaan kita yang sudah turun temurun dilakukan. Ini memang tidak ada dalam agama kita, tapi ini sudah banyak membantu keluarga kita mengusir perbuatan jahat orang lain pada kita.” Kata Nenek pada Mamak dengan suara yang agak kencang. Nenek merasa sangat tersinggung.

“Kasih tau juga, ini bukan untuk melanggar agama tapi untuk membantunya supaya tidak kesurupan lagi.”

“Anak-anak jaman sekarang memang susah di kasih tau.” Samar masih terdengar suara Nenek yang kesal sambil meninggalkan Mamak yang hanya bisa mengangguk.

Mamak menasehatiku supaya menurut saja apa yang dikatakan Nenek.

“Paling tidak kamu harus coba dulu supaya Nenek tak tersinggung.” Kata Mamak pelan.

Aku tidak berkata apa-apa. Saat ini aku hanya ingin lebih mendekatkan diri pada Allah. Memohon pada Allah agar memberikan jalan supaya bisa sembuh. Hanya itu yang bisa kulakukan.

***

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://inita.blogsome.com/2007/08/30/denandu/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita