Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

September 5, 2007

Denandu (2)

Filed under: Uncategorized

Hari Sabtu seperti biasa aku tidak ada kuliah, jadi sepanjang pagi kuhabiskan waktuku untuk membantu Mamak memasak dan membersihkan rumah. Setelah selesai, aku dan Mamak menyiapkan makan siang. Waktu menunjukkan hampir jam dua belas siang. Biasanya sebentar lagi Abah akan pulang kantor untuk makan siang di rumah. Tak berapa lama kemudian terdengar motor melintasi jembatan rumah kami. Rumah kami memang berbentuk panggung dengan teras yang langsung tersambung pada jembatan kecil sebagai gangnya. Tentu saja tidak hanya rumah kami yang berbentuk seperti ini. Rata-rata rumah yang ada di bumi intimung ini berbentuk rumah panggung. Bumi intimung adalah julukan dari Kabupaten Malinau. Kabupaten yang terletak di utara Pulau Kalimantan ini baru dimekarkan beberapa tahun yang lalu. Disinilah aku bersama kedua orang tuaku tinggal. Rumah kami yang dibangun dari kayu ulin ini berdiri diatas tanah yang tidak begitu luas. Walaupun berbentuk panggung dan tidak memiliki halaman tapi Mamak tetap bisa menanam bunga di dalam pot dan diletakkan di teras depan rumah panggung kami. Rumah ini adalah hasil kerja keras Abah yang sudah puluhan tahun menjadi pegawai negeri.

Ah, ternyata memang Abah yang datang. Setelah sholat dhuzur berjamaah kami pun makan siang bersama.  

***

Jam delapan pagi aku sudah bersiap-siap ke kampus. Ada kuliah pagi yang harus kuikuti hari Senin ini. Nur sudah menungguku dengan sepeda motornya di depan rumah. Kami berdua kemudian pamit pada Mamak. Abah sudah berangkat kerja dari tadi. Begitu tiba di gerbang kampus kami melewati area yang selalu dipakai oleh preman kampus untuk nongkrong. Hmm.. julukan itu kuberikan pada anak-anak kampus yang modelnya seperti preman betulan. Rambut dan kumis yang gondrong juga celana yang belel.

“Nur, hati-hati. Si Andu dipegang yang erat ya, nanti kesurupan lagi.” Kata Fandi, salah satu dari preman kampus yang kubilang tadi ketika kami melewati mereka.

Begitu Fandi selesai bicara terdengarlah suara tertawa dari mereka.

“Ndu.. kamu itu cantik dan berjilbab, tapi kenapa gampang kesurupan?” Terdengar suara Fandi lagi.

“Baca doanya kurang mujarab kali Fan atau sembahyangnya kurang khusyuk.” Satu suara terdengar dari belakang Fandi.

Hatiku panas mendengarnya. Siapa yang mengatakan hal itu? Aku menatap ke arah Fandi cs. Otomatis semua anggota preman kampus tadi melihat ke arah lain. Sehingga aku tidak tau siapa yang sudah mengeluarkan suaranya tadi.

”Yuk cepat, bentar lagi kuliah mulai.” Nur mencoba mengalihkan perhatianku.

Mataku masih tidak beranjak dari tempat Fandi cs nongkrong. Aku merasakan sesuatu yang dingin menyergap.  Aku melangnkahkan kaki ke arah Fandi cs.

”Bughh..” Kulayangkan kepalan tanganku ke wajah Fandi.

Fandi yang kaget tidak sempat mengelak dari pukulanku dan langsung terduduk di tanah.

”Siapa lagi yang mau ini?” Aku mengacungkan kepalan tanganku ke atas dan melihat mereka.

Teman-teman Fandi yang lain diam di tempat dan tidak berkutik atau mencoba untuk lari. Fandi bangkit, bibirnya berdarah.

”Eh Andu, kenapa kamu harus marah seperti itu? Apa malu karena kamu berjilbab tapi sering kesurupan?” Fandi mencibir.

Hawa dingin yang tadi datang tidak membuatku merasa dingin tapi malah membuatku terbakar. Aku mengepalkan telapak tangan yang kupakai untuk memukul Fandi tadi. Emosiku naik dan membakar akal sehatku. Seketika tubuhku kejang dan hanya gelap yang terlihat. Suara teriakan Nur samar semakin menghilang.

Aku berada di klinik ketika aku sadar. Kulihat jam di ruang klinik ini sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Nur masih duduk di sebelahku sambil memegang tanganku.

“Alhamdulillah Du, akhirnya kamu sadar juga.”

“Pingsannya jangan pake lama, aku jadi takut.” Katanya lagi.

Aku melihat sprei di ranjang klinik ini yang acak-acak. Pasti aku kesurupan lagi. Pikirku.

“Iya, makanya kalau pingsan jangan pakai acara kesurupan segala.” Kata Nur lagi seperti bisa membaca apa yang sedang ada di pikiranku.

“Mana kutau kalau aku akan kesurupan.” Kataku pelan.

“Aku khawatir apa yang dikatakan nenekmu itu benar Du. Jangan-jangan memang ada yang tersinggung atas perbuatan atau perkataanmu.” Katanya.

“Kau ini ada-ada saja Nur, tak mungkinlah.” Kataku.

“Menurutku sebaiknya kamu coba saja ikuti cara pengobatan yang diinginkan nenekmu, siapa tau berhasil.” Usul Nur.

“Hah?? Kau mau aku mencoba mengikuti pengobatan dengan cara memanggil jin itu?” Tanyaku kaget.

“Kukira nenekmu tidak akan memanggil jin untuk mengobatimu.” Katanya.

“Tapi mungkin akan memanggil genderuwo.” Lanjutnya lagi sambil tertawa.

Dasar Nur.

***

Aku pulang ke rumah dengan kondisi lelah. Mamak dan Abah sedang asyik makan siang.

“Ini minum dulu air putihnya, kelihatannya kamu cape sekali.” Kata Mamak sambil menyodorkan air putih padaku.

Aku mengangguk mengiyakan sambil mengatakan pada Mamak bahwa tadi aku pingsan dan kesurupan lagi.

“Ndu, bisa tolong Abah tak?” Tanya Abah.  Wajah tampan masih tergambar jelas di wajah beliau.

Aku mengangguk. “ Kenapa Abah?”

“Abah minta kamu mau diobati oleh nenekmu ya. Abah kasihan lihat kamu bolak-balik pingsan terus.” Kata Abah.

Aku menyandarkan kepalaku ke sofa biru  di ruang keluarga ini sambil memejamkan mata beberapa saat. Tidak tau apa yang harus aku katakan pada Abah. Setelah membuka mataku kulihat Abah dan Mamak tengah menatapku serius sambil menunggu jawabanku.

“Iya Abah, Andu mau. Tapi tolong jangan pakai acara memanggil jin seperti yang biasanya nenek lakukan itu ya.” Pintaku akhirnya.

Abah dan Mamak tersenyum.

Hari minggu terlihat kesibukan di rumah kami. Mamak menyiapkan segala keperluan untuk pengobatanku. Ada pendudukan dan juga air satu baskom yang nantinya akan ditawar dan kemudian dimandikan padaku.

Nenek sudah datang dari pagi. Beliau juga terlihat sibuk. Aku tidak tau apa yang disiapkan beliau.

“Kalau nanti obatnya Nenek tak mempan, Kak Andu di kawinkan saja Mak, siapa tau kalau dikawinkan bisa sembuh.” Kata Uli menggodaku.

“Sorry ya, siapa juga yang mau kawin.” Kataku galak.

“Hati-hati Kak, tahan dulu marahnya. Nanti malah kumat lagi.” Uli masih menggodaku.

Jam sepuluh pagi semua perlengkapan sudah disiapkan. Proses pengobatan sengaja dilakukan di kamarku. Alasan nenek supaya pugai yang tersebar di kamarku bisa hilang sekalian. Yang dilakukan nenek pertama kali adalah menyiapkan gelas kecil yang berisi air dan kemudian membacakan doa. Setelah itu air yang sudah ditawar tadi diminumkan separuhnya untukku. Kemudian Nenek menuju kamar mandi yang ada di kamarku dan menuang sisa air tadi ke dalam bak mandiku.

Aku kembali merasa tubuhku dingin dan lemas.

“Nek, tolong” Uli berteriak.

“Sebentar.” Kata Nenek sambil keluar dari kamar mandi..

“Ayo keluar, jangan ganggu cucuku.” Kata Nenek sambil memegang ibu jari kaki Andu.

“Memangnya siapa dia Nek?” Uli bertanya.

Nenek tidak menjawab. Mamak mencubit tangan Uli.

”Tidak mau… tidak mau… lepaskan aku.. ”Andu mengerang dan suaranya terdengar lain dari biasanya.

”Mau minta apa kamu hah?” Nenek bertanya sambil membentak.

Andu memberontak dengan kuat dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Uli. Uli kaget dan melepaskan tangannya. Seketika Andu tengkurap dan bersikap layaknya buaya yang sedang berjalan.

”Urrggghh.. urrgghhh.. ” Erangan Andu masih terdengar. Kepalanya melihat ke berbagai tempat bergantian.

Nenek segera mengambil telur ayam kampung yang sudah disiapkan sebelumnya.

”Dia pasti mencari ini.” Ujar Nenek sambil menyodorkan telur tersebut pada Andu.

Andu melahap telur itu dengan cepat lengkap dengan cangkangnya. Uli mulai menangis melihat apa yang dilakukan Andu.

Mamak menarik tangan Uli keluar dari kamar Andu.

“Uli kasihan melihat Kakak begitu Mak.” Kata Uli masiih menangis.

“Mamak juga, tapi biarkan Nenekmu melakukan pengobatannya. Kita berdoa saja mudah-mudahan Kakakmu bisa sembuh.” Mamak menyakinkan Uli.

Uli mengangguk kemudian masuk lagi ke kamar Andu bersama Mamak. Mereka kembali membantu memegang Andu yang sudah mulai melemah dan tidak lagi memberontak.

Begitu sadar aku berada di dalam pelukan Mamak. Seluruh tubuhku rasanya sakit sekali. Wajah Uli yang masih tegang terlihat di depanku. Sedangkan nenek tidak memperhatikanku sama sekali. Beliau membereskan semua keperluan yang sudah dipakai untuk pengobatan tadi.

“Sudah selesaikah Mak?” Tanyaku lemah.

Mamak mengangguk tanpa suara.

Aku memegang pergelangan tanganku yang sakit.

“Maaf Kak, kalau Uli tadi memegang Kakak terlalu erat. Habisnya Kakak kuat sekali berontaknya.” Cerita Uli.

“Aku dan Mamak sampai tak kuat.” Lanjutnya lagi.

“Banyak-banyak berdoa pada Allah, mudah-mudahan ini adalah terakhir kalinya kau kesurupan.” Kata Mamak sambil membantuku berdiri dan berbaring di ranjang.

“Insyaallah Mak.” Kataku mengangguk.

Azan dzuhur terdengar dari Mushalla yang jaraknya cuma beberapa meter dari rumah kami. Aku bangun dan menuju ke kamar mandi. Tubuhku lengket oleh keringat. Setelah sholat dzuhur aku ke dapur. Kulihat Nenek asyik bercerita sambil menyiapkan makan siang dengan Mamak dan Uli. Nenek memberitahuku bahwa yang merasuk ke tubuhku adalah suruhan orang dan berwujud buaya. Tapi Nenek sudah menyuruhnya untuk pulang kembali ke orang yang telah menyuruhnya. Nenek cuma berpesan padaku agar selalu menjaga diri dan berbuat baik pada orang lain.

Ahhhternyata di jaman yang tekhnologinya sudah secanggih ini masih ada hal-hal yang mistis dan tidak bisa dijangkau oleh akal sehat.

****

Aku mengambil tas dan kunci motorku. Hari ini aku ada kuliah jam sepuluh. Setelah pamit pada Mamak, motor kuhidupkan. Di kejauhan kulihat seorang perempuan yang tak asing bagiku. Perempuan cantik itu melambaikan tangannya padaku sambil mendekatiku. Aku tersenyum membalasnya.

“Andu” Suara teriakan Mamak samar terdengar.

Aku merasakan hawa sejuk dan seluruh tubuhku pun lemas.

 

*******

                                                                                   
Catatan:

Lemah bulu    : keadaan dimana tubuh kita gampang dimasuki oleh mahluk halus

Keteguran      : kemasukan mahluk halus

Pugai              : guna-guna

Pendudukan  : mangkuk atau baskom yang diisi dengan beras, lilin kuning, pisang, kopi, gula, dsb. benda-benda ini biasanya digunakan untuk upacara adat.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://inita.blogsome.com/2007/09/05/denandu-2/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita