Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

January 29, 2008

he..he..

Filed under: Daily Diary

Beberapa hari yang lalu ceritanya nih kami ke tukang sate langganan tentunya untuk beli sate dong, terus waktu lagi nunggu satenya dibakar tiba-tiba si mas tukang satenya lari terbirit-birit ke belakang sampai menabrak kursi segala. Aku heran dan bertanya-tanya dalam hatiku ada apakah gerangan?

Kira-kira tiga menit kemudian si masnya balik lagi sambil senyum-senyum.

"Anu Mbak, tadi saya masak mie tapi kelupaan. Jadi hangus mienya."

Yeee.. kirain kebelet emoticon 

January 8, 2008

Kerudung atau nggak??

Filed under: Daily Diary

Kemarin malam, adikku sms ke aku dan bilang padaku ada temannya cewek yang pengen pake jilbab. Adikku nanya apa yang perlu disiapkan untuk pertama kalinya. Dengan santai ku balas smsnya begini, yang pertama ya tentu harus ada jilbabnya, terus pake bajunya gak boleh ketat dan lengan panjang dan jilbab menutup dada, gak boleh pake celana ketat karena percuma saja kepala di tutup tapi bokong (maaf) terlihat. Gak boleh berduaan dengan seseorang yang bukan muhrimnya. he..he..

Adikku balas sms lagi, Haa? segitunyakah? gak bisa ditawar lagi?

Itu dah harga mati, gak bisa ditawar lagi makanya harus benar-benar ikhlas dan tulus, kalau cuma sekedar identitas sebagai muslimah lebih baik nggak usah daripada ntar nyesal dan bongkar pasang, balasku lagi.

Apa nggak kepanasan kalau pake jilbab kaya gitu? Tanyanya lagi.

He..he.. ternyata dia ngerti kalau jilbab yang aku rekomendasikan adalah jilbab atau kerudung ukuran minimal L seperti yang selalu kukenakan sehari-hari.

Insyaallah nggak. Lagian sekarangkan banyak jenis jilbab atau kerudung yang bahan atau kainnya kaos yang nggak bikin panas tapi memang sih kalau nggak dicoba dulu nggak akan tau gimana enaknya pake jilbab. Sekali lagi yang penting adalah ikhlas, aku membalas sms adikku sekali lagi.

Setelah itu tidak ada balasan lagi dari adikku.

Jadi ingat dulu waktu pertama kali aku memutuskan pakai jilbab. Gara-gara teman kerjaku dari aceh yang ngomporin aku dan Mbak Endang (kasir di kantorku dulu) untuk pakai jilbab. Waktu itu dia pernah nanya kenapa aku dan mbak endang gak kerudungan. Kami berdua kompak bilang kalau kami belum siap dan belum dapat hidayah hikss.. Beneran nih saat itu belum terpikir olehku untuk kerudungan. Terus temanku tadi dengan santainya nanya kapan siapnya? kalau besok dah gak dikasih umur lagi apa mau meninggal dalam keadaan "telanjang" tanpa jilbab? Perempuan wajib lho menutup aurat, katanya sambil tersenyum.

Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Ya Allah, saat itu aku merasa benar-benar seperti merasakan pukulan dari segala penjuru. Tiba-tiba ada ketakutan yang muncul dikepalaku. Ketakutan akan hari kematian yang aku tidak tau kapan datangnya. Bagaimana kalau umurku ternyata tidak sampai besok hari? Apa yang harus kulakukan?

Kakiku terasa tak kuat menopang tubuhku. Kutinggalkan temanku tadi yang melihatku dengan tatapan heran. Kukira raut wajahku berubah waktu mendengar ucapannya tadi. Sampai jam kerja selesai kalimat dari temanku tadi masih terngiang-ngiang ditelingaku bahkan di rumah pun kalimatnya tadi tidak bisa kulupakan.

Besoknya Mbak Endang telpon aku dan nanyain apa aku pakai jilbab atau nggak. Dengan mantap aku jawab iya. Ternyata Mbak Endang juga memutuskan untuk mengenakan jilbab.

Sampai di kantor bossku terkejut melihatku mengenakan kerudung yang menurutku agak kacau he.he.. karena baru pertama pakai. Tapi dengan kenekatanku yang berada di level 360 derajat segala ucapan dan komen kuabaikan. Begitu juga besok, besok dan besoknya lagi. Setelah tiga hari sudah tidak ada lagi komentar-komentar. Haaa… aku sudah mulai terbiasa.

Setelah bisa mengendalikan situasi cieeee… maksudku setelah aku terampil menjepit jilbabku mulai deh aku mencoba cara-cara baru dalam penampilan jilbabku. Aku bahkan sempat memakai jilbab seperti yang dilakukan oleh inneke koesherawati bahkan sebelum inne berjilbab kaya gitu aku sudah mengikat kerudungku dengan model seperti itu. emoticon sampai-sampai adikku bilang kalau aku seperti orang mau bunuh diri karena mengingkat kerudung di leher. Beberapa bulan kemudian aku mulai mengganti lagi model kerudungku alasannya adalah karena agak ribet dan makan waktu lama di kamar mandi. Kali ini aku pilih yang simple saja. Aku pake kerudung ukuran s jadi nggak perlu diikat dan gak kebesaran. Pelan-pelan aku mengganti lagi ukuran kerudung jadi M bahkan sampai aku resign aku sudah mengganti ukuran kerudungku jadi L sampai saat ini.

Ahhh, semuanya berawal dari ucapan temanku yang secara tidak sengaja telah membuatku terpental dan merasa ketakutan luar biasa sehingga aku mengambil keputusan besar. Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada sedikitpun penyesalan akibat dari keputusanku ini. Aku bersujud padamu Allah karena telah memberikan hidayahmu padaku.

Bye everyone. 

January 5, 2008

Tentang Aku, Gadis Awan dan Empat Wajah Cerah

Filed under: Uncategorized

Aku dan gadis awan berlari, menerobos kumpulan titik hujan yang semakin berirama cepat, berlari mencari keteduhan, mencari perlindungan dan kehangatan.

Aku dan gadis awan sumringah, menunjuk sisi selatan yang terang benderang. Tapi kami salah, terang tak bisa memberi kami teduh, terangnya ternyata membawa rinai yang juga membekukan tulang-tulang kami. Ahhh..

Aku dan gadis awan kembali berlari. Biarlah…. Tak usah mencari teduh, tak usah menanti hangat, lebih baik merapatkan kain dan wol, semoga tercipta hangat.

Aku dan gadis awan terus berlari, ahhh.. kini kami tak lagi sendiri, empat wajah cerah menghampiri, membawa senyum bintangnya, cukup untuk menghangatkan juga menebarkan keteduhan.

Empat wajah indah mengiring langkah kami, kini beku telah mulai mencari dan hujan tak lagi berarti, yang tersisa adalah sebongkah hati yang terus bernyanyi. 

Tahun Baru, Cerita baru, Semangat Baru

Filed under: Daily Diary

Jam setengah sepuluh kita sampai di samarinda. Rencana awalkan pengen lihat konser nasyid. Nyampe di acara kirain sudah berlangsung konsernya ternyata? belum sama sekali padahal diinformasi spanduknya akan dimulai jam sembilan. Ngaret!

Konsernya baru dimulai jam sepuluhan. Ada 3 group nasyid yang tampil. Pevo (Tenggarong), Insani (Samarinda) dan Neo Selatan (Balikpapan). Masing-masing dapat kesempatan buat nampilin 5 lagu. Menurutku nih konsernya formal banget bahkan cenderung nggak seperti konser deh. Lokasinya di aula Untag dan yang hadir pun alhamdulillah nggak begitu banyak, he..he.. Sepertinya sih kurang gaung karena di tenggarong sendiri nggak ada infonya kalau mau ada konser nasyid. Kita-kita juga taunya dari informasi rekan-rekan Pevo. Lah…

Pevo dapat giliran manggung pertama. Not bad lah, walaupun mikroponnya agak menggaung sehingga jantung ikutan dag dig dug. Dua lagu pertama sukses dinyanyikan. Setelah itu giliran insani yang tampil. Pas lagu kedua glek, listriknya padam dan otomatis lagu yang dinyanyikan tidak terdengar. Akhirnya mereka turun panggung sambil menunggu panitia menyalakan genset. Setelah genset ready konser lanjut dengan menampilkan neo selatan yang juga membawakan dua lagu. 

Setelah itu break dan ada dorprizenya lho. he.. Ohya, aku bertepuk tangan dalam hati (gimana caranya?) untuk duo mc nya yang kompak dan bagus bawain acaranya, cukup menghibur suasana yang terasa panas. Konser dilanjutkan lagi setelah bagi dorprize. Anak-anak Pevo manggung lagi dan bawa dua lagu lagi. Abis tu ku ajak Mia keluar dan kabur dari sana. Suasana mulai membuatku jenuh dan kepanasan. Syukur Mia setuju dan kita menuju trip yang kedua ke lembuswana mal. Katanya disana ada bookfair tapi pas nyampe sana nggak ada tuh bookfairnya. Hikss.. Sad. Akhirnya kita makan siang dan dilanjutkan ke galeri mainan, aku pengen beliin oleh-oleh untuk Caca.

Caca pengennya boneka garfield tapi sayangnya gak ada bonekanya. Akhirnya kubelikan barbie yang bersayap dan scrabble. Pas dikasir hujan turun deras banget pakai acara angin kencang lagi. Duh gimana nih, mana sudah jam setengah dua lagi. Aku dan Mia belum Dzuhur-an. Nekad, berdua kita ke kost adikku, basah kuyup deh. Setelah ganti baju (boleh minjam punya adik) kita sholat dulu sambil nunggu hujan reda. Aku mengontak anak-anak Pevo dan mereka setuju kita pulangan bareng. Syukurlah ada teman pulang, nggak kebayang kalau mesti pulang berdua ma mia terus kemalaman. Hiiiii…

Ternyata hujannya nggak reda-reda. Aku dan Mia nekad lagi, kita laluin saja hujan yang kebetulan sudah berkurang dari derasnya dan nemuin anak-anak Pevo yang masih menunggu di tempat konser tadi. Duh, jalanan banjir bo, aku sempat kebat-kebit takut motonya mia mogok. Alhamdulillah, kita lolos dari banjir dan bisa ketemu dengan anak-anak Pevo.

Tapi kita nggak langsung pulang lho, melainkan makan bakso dulu. Hujan masih setia membasahi bumi dengan rintiknya yang gede-gede. Setelah makan barulah kita langsung pulang. Dijalan Caca meneleponku.

"Bun, aku punya hadiah untuk Bunda," Caca berkata dengan suaranya yang riang.

"Iya, Bunda juga punya sesuatu untuk Caca," balasku.

"Tungguin Bunda di rumah ya," lanjutku lagi.

"Iya Bun." Kututup teleponnya setelah salamku dibalas Caca. Gak sabar rasanya pengen sampai di rumah.

Di perjalanan berkali-kali anak-anak Pevo melakukan hal-hal kecil yang menurutku kekanak-kanakan. Tapi aku menikmatinya karena mereka begitu terlihat riang dan bersemangat. Senyum lebar terus-menerus terpampang diwajah tulus mereka. Ah, aku seperti menonton pertunjukan yang dimainkan adik-adikku. Kira-kira empat puluh lima menit kemudian kita sampai juga di Tenggarong dan kita berpisah menuju rumah masing-masing. Alhamdulillah, ketemu sama Caca dan ayah lagi.  

Begitu sampai di rumah Caca langsung memberikan hadiahnya untukku. Sebuah amplop coklat yang berisi kartu undangan yang dia tulis sendiri dan uang dua puluh ribu. He..he.. Gantian aku memberikan hadiah untuknya. Caca langsung senang dan memuji-muji mainannya. Sedangkan ayah diam aja, mungkin agak marah karena aku pulangnya kesorean. Maaf ya Sweetheart.. Bukannya bermaksud untuk pulang sore tapi kondisinya nggak memungkinkan kita untuk pulang cepat.  

Malamnya aku tertidur cepat dengan kedua kakiku yang rasanya mau copot karena kecapean jalan turun gunung hikss..

Satu hari penuh cerita sudah berlalu, besok ada cerita apa lagi ya? 

Bye everyone. 

January 2, 2008

Tahun Baru, Cerita Baru, Semangat Baru

Filed under: Daily Diary

Gak terasa tahun baru sudah berlalu sehari. Banyak pr yang belum selesai di tahun 2007 dan harus kubawa di tahun 2008 ini. Berharap pr-pr ini tidak lagi terpending dan selesai sebelum tahun 2008 usai.

Menjelang pergantian tahun kemarin ada cerita yang cukup unik bahkan sampai saat tahun baru pun cerita tidak berhenti begitu saja. Awalnya malam tahun baruan pengennya sih jalan-jalan melihat kota yang sedang sibuk dengan full musiknya juga full asap karena hampir setiap rumah bikin acara bakar-bakaran mulai dari jagung, ayam juga ikan. Pemandangan inilah yang terjadi di setiap sisi ataupun sudut kota tenggarong menjelang menit-menit pergantian tahun tapi karena jalanan yang rame dan agak macet jadinya kita cuma belanja makanan kecil dan balik lagi ke rumah trus nonton naga bonar walaupun sebenarnya dah pernah nonton.

Lagi asyik nonton eh, mama nelpon dari kampung halaman. Duh, my dear mom cerita kalau di rumah lagi ada acara bakar-bakaran juga. Kata mama nih adikku yang mancing ikan nila di kolam depan rumah, he..he.. Duh, senang ya Ma, bisa bakar ikan. Kita disini gak bikin acara apa-apa, kataku pada Mama. Mama cuma tertawa mendengar yang kukatakan. Kami cukup lama bercerita dan tak terasa sudah jam setengah dua belas. Caca sudah masuk ke kamar bareng ayahnya tapi waktu aku tengok ternyata dia belum tidur. Setelah mimi susunya barulah dia tertidur.

Aku sudah terlena ketika tiba-tiba aku terbangun karena kaget dengan suara menggelar dari dekat rumahku. Gak cuma aku yang kaget, ayah yang juga sudah terlelap pun ikutan kaget. Terus terang aku takut dengan suara-suara seperti itu, suara seperti sebuah ledakan yang menakutkan padahal aku tau kalau itu hanyalah kembang api.

"Yah, suaranya kok keras banget ya," kataku pada suamiku.   

Ayah cuma bilang iya dan mendehem sekali terus tidur lagi.

Aku baru bisa terlelap kembali setelah bunyi kembang api itu berhenti sama sekali.

Tapi baru juga terlelap telepon kembali berdering. Aku kaget lagi, duhhh… adikku yang di samarinda telepon. Dengan mata yang agak sulit terbuka ku lihat jam di dinding. Masih jam satu pagi.

"Hhhmm.. napa?" tanyaku.

"Gak papa, selamat tahun baru ya," jawabnya sambil tertawa.

"Mau ikan bakar gak?" 

"Mau, kirim ke tenggarong ya," kataku masih dengan kantuk.

"Kesini aja," katanya.

"Ngapain tengah malam buta ke samarinda?" 

"Kutunggu besok kiriman ikannya ya, dah dulu aku ngantuk," Kataku.

Setelah itu aku kembali ngelanjutin tidur eh nggak ding aku lupa. Caca bangun dan menangis keras-keras. Dia ngelindur tapi gak lama kok abis tu tidur lagi. Alhamdulillah akhirnya aku bisa terlelap lagi.

Pagi jam setengah enam alarm ayah berdering terus dimatikan dan ngelanjutin tidur. Jam enam aku kaget dan cepat-cepat bangunkan trus kita sholat subuh. Eh iya, aku sempat kaget karena Mia sms dan dia ada didepan rumah. Waduh, mana belum mandi lagi. Terpaksa deh buka pintu sambil nampangin wajah yang masih bau kasur. he..he.. walaupun dah kena air tadi.

Mia menjemputku, rencananya kita mau ke Samarinda dan lihat konser nasyid Pevo (peace voice), nasyidnya anak-anak flp tenggarong. Maidi, Kni, Nunur, Didi dan Ihsan. Jam tujuh kurang lima belas menit kita berangkat. Berrr.. masih dingin dan kabutnya tebal. Jarak pandang mungkin hanya sekitar lima meter. Sudah lama aku tidak bertemu dengan kabut pagi dan merasa sentuhannya di kedua pipiku. Aku merapatkan jaketku dan duduk dengan agak was-was karena mia agak kencang bawa motornya.

"Mi, please pelan-pelan ya, aku takut," ucapku hanya dalam hati.

Aku nggak tega bilangin ke mia supaya pelan-pelan takut tersinggung. Padahal sih kayanya dia nggak mungkinlah tersinggung. She is very nice girl gitu. Kita berhenti sebentar beli bensin trus lanjut perjalanan lagi.

Matahari mulai menampakkan senyumnya, tak terasa kira-kira lima belas menit lagi kita akan tiba di Samarinda. Tapi ternyata tidak jadi lima belas menit. Ceritanya nih pas motornya mendaki jalan gunung pinang, jalan bergunung yang tertinggi antara samarinda dan tenggarong, kurasakan ada yang aneh pada motor mia. Jalannya mulai oleng, aku merasa seperti berada di atas perahu yang miring ke kiri dan ke kanan. Begitu sampai di puncak gunung kami berhenti dan olalalaa… ban belakangnya gembos. Allah, dimana kami bisa menemukan bengkel pagi-pagi begini mana tahun baru lagi, bengkel-bengkel pada tutup. Walau begitu aku dan mia tetap optimis dan mencoba mengetuk pintu rumah yang di halaman rumahnya terpampang info ‘tambal ban". Gak enak juga sih waktu ngelihat ibu yang punya rumah baru bangun pas buka pintunya. Trus kita minta tolong untuk menambalkan ban. Tapi si ibu bilang kalau hari ini mekaniknya belum datang. Kita sempat tanya kapan kira-kira mekaniknya datang tapi dengan santainya si ibu menjawab nggak tau. Duh Allah, tolongin kita, ucapku dalam hati. Tapi Si ibu tetap bantuin kita kok, nelpon mekaniknya dan nanyain apa bisa datang. Tapi ternyata sang mekanik tidak bisa datang. Akhirnya si Ibu bilang kalau di bawah gunung (jalan yang sudah kita lewati tadi) ada bengkel.

"Dekat aja kan Bu bengkelnya dari sini?" tanyaku dan mia.

"Iya, dibawah gunung sana," Si Ibu menjawab sambil tersenyum.

Setelah mengucapkan terima kasih aku dan mia menyeret sepeda yang terasa berat dan melewati jalan menurun. Fuiiihhh, keringat mulai terasa di punggungku dan meresap di gamis kotak-kotakku. Sabar… sabar.. aku berucap dalam hati. Berharap bengkel yang akan kami tuju akan buka.

"Mi, mana bengkelnya ya?" aku bertanya pada mia yang mungkin saja punya pertanyaan yang sama dengan yang kuajukan di dalam hatinya.

"Iya nih Mba, yang mana ya?" tanyanya balik padaku.

Sepulu, lima belas, dua puluh, dua puluh lima, seratus, seratus lima puluh meter. Wuaaahhh, gak nyangka jarak bengkelnya hampir dua ratus meter. Kalau kondisi jalannya lurus mungkin gak papa tapi ini .. jalannya menurun terus dan dengan menggandeng motor perjalanan ke bengkel jadi terasa panjanggg.. Begitu sampai di bengkel kita harus mengetuk pintu lagi. Maaf ya Pak, kami mengganggu hari liburnya, sekali lagi aku hanya berucap dalam hati. Kenapa? Karena si Bapak yang punya bengkel orangnya baik banget dan mau membantu kita. Sambil menunggu tambal ban selesai aku dan mia panit sebentar pada si Bapak dan memesan sarapan mie rebus + telor di warung yang jaraknya cuma dua rumah dari bengkel, nyammm. Alhamdulillah, kami semangat lagi setelah melumat mie rebus rasa soto ayam yang dicampur dengan telur dan irisan cabe. he.he..

Selesai makan mie kami berdua kembali ke bengkel dan ternyata proses penambalan belum selesai. Si Bapak bilang kalau bocornya ada tiga dan yang menyebabkan bocor adalah kawat-kawat yang entah dari mana asalnya. Mia sendiri sempat heran dan bertanya sendiri dimana dia menjejakkan ban motornya hingga bisa menyentuh kawat-kawat tadi. Dan uniknya nih Mia menyimpan potongan kawat yang menyebabkan ban motornya gembos.

Setelah hampir satu jam di bengkel akhirnya kita melanjutkan perjalanan. Eeeiitt… Di perjalanan masih banyak ceritanya nih tapi besok aja lagi ya. Sekarang ngantuk…

Bye everyone.
 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita