Assalamu'alaikum

Dunia Cinta

January 2, 2008

Tahun Baru, Cerita Baru, Semangat Baru

Filed under: Daily Diary

Gak terasa tahun baru sudah berlalu sehari. Banyak pr yang belum selesai di tahun 2007 dan harus kubawa di tahun 2008 ini. Berharap pr-pr ini tidak lagi terpending dan selesai sebelum tahun 2008 usai.

Menjelang pergantian tahun kemarin ada cerita yang cukup unik bahkan sampai saat tahun baru pun cerita tidak berhenti begitu saja. Awalnya malam tahun baruan pengennya sih jalan-jalan melihat kota yang sedang sibuk dengan full musiknya juga full asap karena hampir setiap rumah bikin acara bakar-bakaran mulai dari jagung, ayam juga ikan. Pemandangan inilah yang terjadi di setiap sisi ataupun sudut kota tenggarong menjelang menit-menit pergantian tahun tapi karena jalanan yang rame dan agak macet jadinya kita cuma belanja makanan kecil dan balik lagi ke rumah trus nonton naga bonar walaupun sebenarnya dah pernah nonton.

Lagi asyik nonton eh, mama nelpon dari kampung halaman. Duh, my dear mom cerita kalau di rumah lagi ada acara bakar-bakaran juga. Kata mama nih adikku yang mancing ikan nila di kolam depan rumah, he..he.. Duh, senang ya Ma, bisa bakar ikan. Kita disini gak bikin acara apa-apa, kataku pada Mama. Mama cuma tertawa mendengar yang kukatakan. Kami cukup lama bercerita dan tak terasa sudah jam setengah dua belas. Caca sudah masuk ke kamar bareng ayahnya tapi waktu aku tengok ternyata dia belum tidur. Setelah mimi susunya barulah dia tertidur.

Aku sudah terlena ketika tiba-tiba aku terbangun karena kaget dengan suara menggelar dari dekat rumahku. Gak cuma aku yang kaget, ayah yang juga sudah terlelap pun ikutan kaget. Terus terang aku takut dengan suara-suara seperti itu, suara seperti sebuah ledakan yang menakutkan padahal aku tau kalau itu hanyalah kembang api.

"Yah, suaranya kok keras banget ya," kataku pada suamiku.   

Ayah cuma bilang iya dan mendehem sekali terus tidur lagi.

Aku baru bisa terlelap kembali setelah bunyi kembang api itu berhenti sama sekali.

Tapi baru juga terlelap telepon kembali berdering. Aku kaget lagi, duhhh… adikku yang di samarinda telepon. Dengan mata yang agak sulit terbuka ku lihat jam di dinding. Masih jam satu pagi.

"Hhhmm.. napa?" tanyaku.

"Gak papa, selamat tahun baru ya," jawabnya sambil tertawa.

"Mau ikan bakar gak?" 

"Mau, kirim ke tenggarong ya," kataku masih dengan kantuk.

"Kesini aja," katanya.

"Ngapain tengah malam buta ke samarinda?" 

"Kutunggu besok kiriman ikannya ya, dah dulu aku ngantuk," Kataku.

Setelah itu aku kembali ngelanjutin tidur eh nggak ding aku lupa. Caca bangun dan menangis keras-keras. Dia ngelindur tapi gak lama kok abis tu tidur lagi. Alhamdulillah akhirnya aku bisa terlelap lagi.

Pagi jam setengah enam alarm ayah berdering terus dimatikan dan ngelanjutin tidur. Jam enam aku kaget dan cepat-cepat bangunkan trus kita sholat subuh. Eh iya, aku sempat kaget karena Mia sms dan dia ada didepan rumah. Waduh, mana belum mandi lagi. Terpaksa deh buka pintu sambil nampangin wajah yang masih bau kasur. he..he.. walaupun dah kena air tadi.

Mia menjemputku, rencananya kita mau ke Samarinda dan lihat konser nasyid Pevo (peace voice), nasyidnya anak-anak flp tenggarong. Maidi, Kni, Nunur, Didi dan Ihsan. Jam tujuh kurang lima belas menit kita berangkat. Berrr.. masih dingin dan kabutnya tebal. Jarak pandang mungkin hanya sekitar lima meter. Sudah lama aku tidak bertemu dengan kabut pagi dan merasa sentuhannya di kedua pipiku. Aku merapatkan jaketku dan duduk dengan agak was-was karena mia agak kencang bawa motornya.

"Mi, please pelan-pelan ya, aku takut," ucapku hanya dalam hati.

Aku nggak tega bilangin ke mia supaya pelan-pelan takut tersinggung. Padahal sih kayanya dia nggak mungkinlah tersinggung. She is very nice girl gitu. Kita berhenti sebentar beli bensin trus lanjut perjalanan lagi.

Matahari mulai menampakkan senyumnya, tak terasa kira-kira lima belas menit lagi kita akan tiba di Samarinda. Tapi ternyata tidak jadi lima belas menit. Ceritanya nih pas motornya mendaki jalan gunung pinang, jalan bergunung yang tertinggi antara samarinda dan tenggarong, kurasakan ada yang aneh pada motor mia. Jalannya mulai oleng, aku merasa seperti berada di atas perahu yang miring ke kiri dan ke kanan. Begitu sampai di puncak gunung kami berhenti dan olalalaa… ban belakangnya gembos. Allah, dimana kami bisa menemukan bengkel pagi-pagi begini mana tahun baru lagi, bengkel-bengkel pada tutup. Walau begitu aku dan mia tetap optimis dan mencoba mengetuk pintu rumah yang di halaman rumahnya terpampang info ‘tambal ban". Gak enak juga sih waktu ngelihat ibu yang punya rumah baru bangun pas buka pintunya. Trus kita minta tolong untuk menambalkan ban. Tapi si ibu bilang kalau hari ini mekaniknya belum datang. Kita sempat tanya kapan kira-kira mekaniknya datang tapi dengan santainya si ibu menjawab nggak tau. Duh Allah, tolongin kita, ucapku dalam hati. Tapi Si ibu tetap bantuin kita kok, nelpon mekaniknya dan nanyain apa bisa datang. Tapi ternyata sang mekanik tidak bisa datang. Akhirnya si Ibu bilang kalau di bawah gunung (jalan yang sudah kita lewati tadi) ada bengkel.

"Dekat aja kan Bu bengkelnya dari sini?" tanyaku dan mia.

"Iya, dibawah gunung sana," Si Ibu menjawab sambil tersenyum.

Setelah mengucapkan terima kasih aku dan mia menyeret sepeda yang terasa berat dan melewati jalan menurun. Fuiiihhh, keringat mulai terasa di punggungku dan meresap di gamis kotak-kotakku. Sabar… sabar.. aku berucap dalam hati. Berharap bengkel yang akan kami tuju akan buka.

"Mi, mana bengkelnya ya?" aku bertanya pada mia yang mungkin saja punya pertanyaan yang sama dengan yang kuajukan di dalam hatinya.

"Iya nih Mba, yang mana ya?" tanyanya balik padaku.

Sepulu, lima belas, dua puluh, dua puluh lima, seratus, seratus lima puluh meter. Wuaaahhh, gak nyangka jarak bengkelnya hampir dua ratus meter. Kalau kondisi jalannya lurus mungkin gak papa tapi ini .. jalannya menurun terus dan dengan menggandeng motor perjalanan ke bengkel jadi terasa panjanggg.. Begitu sampai di bengkel kita harus mengetuk pintu lagi. Maaf ya Pak, kami mengganggu hari liburnya, sekali lagi aku hanya berucap dalam hati. Kenapa? Karena si Bapak yang punya bengkel orangnya baik banget dan mau membantu kita. Sambil menunggu tambal ban selesai aku dan mia panit sebentar pada si Bapak dan memesan sarapan mie rebus + telor di warung yang jaraknya cuma dua rumah dari bengkel, nyammm. Alhamdulillah, kami semangat lagi setelah melumat mie rebus rasa soto ayam yang dicampur dengan telur dan irisan cabe. he.he..

Selesai makan mie kami berdua kembali ke bengkel dan ternyata proses penambalan belum selesai. Si Bapak bilang kalau bocornya ada tiga dan yang menyebabkan bocor adalah kawat-kawat yang entah dari mana asalnya. Mia sendiri sempat heran dan bertanya sendiri dimana dia menjejakkan ban motornya hingga bisa menyentuh kawat-kawat tadi. Dan uniknya nih Mia menyimpan potongan kawat yang menyebabkan ban motornya gembos.

Setelah hampir satu jam di bengkel akhirnya kita melanjutkan perjalanan. Eeeiitt… Di perjalanan masih banyak ceritanya nih tapi besok aja lagi ya. Sekarang ngantuk…

Bye everyone.
 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham

Dunia Cinta Tempat Berbagi Cinta dan Cerita