Tolong.. ada api..
Semalam benar2 menjadi malam yang tak terlupakan. Ketika kami sedang asyik bergurau, bercerita dan bercanda ditemani gelapnya keadaan di dalam rumah kami karena sedang dalam dapat giliran mati lampu dari pln. Seketika panik, takut, sedih bercampur jadi satu ketika tetangga sebelah rumah kami berteriak, tolong… ada api.. kebakaran…. yang sontak membuat saya, ayah dan Caca keluar rumah. Astagfirullah, rumah tetangga yang berjarak kira-kira 100 - 150 m kebakaran. Saya dan ayah serta merta jadi seperti orang linglung. Saya langsung memeluk Caca yang saat itu sangat takut ketika melihat api menyala begitu besar dan tinggi. Karena paniknya saya tidak tau harus menghubungi siapa. Ayah setengah berteriak bilang supaya menelpon adik saya andri. Saya mengambil hp dan mencari namanya yang tiba-tiba tidak terlihat oleh saya di phonebook. Saya benar-benar ketakutan. Akhirnya saya berhasil menemukan namanya dan memintanya datang ke tenggarong (posisi adik saya di samarinda). Saya tidak tau siapa lagi yang harus saya hubungi. Tiba-tiba saya teringat Maidi (rekan saya di flp) dan mencoba menghubunginya. Dia langsung datang dan melihat ke lokasi kebakaran. Om Agung, Om Rizal dan beberapa teman ayah yang lain juga datang untuk membantu. Di luar orang-orang sudah berkeliaran dan menyelamatkan harta benda yang bisa di selamatkan. Saya dan ayah hanya mengambil dua tas yang berisi berkas penting, pakaian secukupnya dan meletakkan semuanya di ruang tamu agar gampang di angkat. Ayah juga serta merta menyiapkan cpu dan laptop milik orang yang kebetulan sedang di repair di rumah.
Ya Allah, lindungi kami.. hanya itu yang terus saya ucapkan dalam hati sambil terus membimbing Caca. Beberapa teman mulai menelpon dan hanya bisa saya jawab dengan kalimat mohon doanya.
Kepanikan, warga berlari sambil menangis dan berteriak, anak-anak yang histeris terdengar dimana-mana. Ruas jalan gang yang tadinya sepi berubah menjadi lautan manusia yang hilik mudik mengangkat barang juga menonton kebakaran ini.
Satu hal yang sempat membuat saya kesal karena orang-orang dari luar lokasi kebakaran juga memenuhi gang serta jalan umum dan lebih banyak yang menonton sehingga membuat jalan menjadi sempit dan semakin sulit dilewati oleh petugas pmk.
Dua jam kemudian api berhasil dipadamkan. Alhamdulillah ya Allah, kami masih diberi keselamatan, ucap saya dalam hati. Setelah merasa benar-benar aman, kami sekeluarga kembali ke rumah.
Cobaan ini menjadi pengalaman berharga buat saya, ayah dan mungkin terutama buat Caca. Dia sering terbangun dari tidurnya seperti sebuah trauma dan ketakutan yang belum berhenti. Saya dan ayah membesarkan hatinya dan mencoba melerai ketakutannya dengan mengatakan padanya bahwa insyaAllah semua sudah aman dan saya juga ingatkan Caca untuk tidak lupa berdoa. Caca mengangguk diam dan tak lama tidur dalam pelukan ayah.
Alhamduillah Ya Robbi atas keselamatan dan lindungan yang Kau berikan kepada kami.
bye everybody.
p.s.
photo kejadian kebakaran dapat dilihat di http://kutaikartanegara.com/
kalau caca ngga bisa handle tes pertamanya ini. Terus terang ini juga pengalaman pertama saya sebagai seorang bunda mendampingi anak ikutan tes. Kalau mendampingi caca ikutan lomba apa saja sudah biasa, nah ini tes masuk sekolah dasar. Duhh.. hati ini rasanya nggak karu-karuan padahal sih masih banyak sekolah yang lain tapi entahlah saya terlalu berharap supaya dia bisa masuk ke sdit ini.


